Harga Minyak Melonjak 5 Persen Imbas Cadangan Minyak AS Tersisa 298,7 Juta Barel

Ilustrasi minyak mentah (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:55:08 WIB

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia melonjak sekitar 5 persen usai cadangan minyak strategis Amerika Serikat menyusut ke tingkat terendah sejak empat dekade terakhir. Kenaikan tersebut mempertegas kekhawatiran pasar atas pengetatan pasokan global yang terus berlanjut.

Data Departemen Energi AS mencatat bahwa volume Cadangan Minyak Strategis (SPR) jatuh di bawah threshold 300 juta barel sebagaimana dilansir dari berita sumber. Angka posisi sekitar 298,7 juta barel ini menjadi yang terendah sejak Januari 1983.

Minyak mentah acuan internasional Brent merangkak naik hingga menyentuh US$87,7 per barel. Di saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS ikut terkerek 5,1% ke level US$82,2 per barel.

Tekanan terhadap cadangan minyak AS terjadi akibat penggelontoran stok secara masif demi meredam lonjakan harga domestik. Langkah tersebut diambil di tengah gangguan rantai pasok global serta penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz.

Sebelum konflik meluas, persediaan cadangan strategis AS berada di kisaran 415 juta barel. Namun, intervensi pasar oleh pemerintah mengakibatkan persediaan energi darurat Paman Sam terkikis signifikan.

Ketidakpastian negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz semakin memperburuk sentimen pasar. Jalur laut vital tersebut memegang peranan kunci bagi distribusi minyak dan gas alam cair dunia.

Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka peluang eskalasi terhadap Iran kian memicu kecemasan pelaku pasar. Langkah diplomasi yang stagnan membuat risiko gangguan pasokan jangka panjang tetap tinggi.

Serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, seperti kilang Jazan di Arab Saudi dan kapal tanker minyak, turut memperpanjang tren kenaikan harga. Para analis memproyeksikan pergerakan harga minyak mentah masih akan bergejolak selama belum ada kejelasan terkait pemulihan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.

Reporter: Akbar