Euro Pangkas Pelemahan terhadap Pound Inggris Usai Inflasi Jerman Naik

Ilustrasi pasangan mata uang (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 13 Agustus 2026 | 01:39:23 WIB

JAKARTA – Euro (EUR) pulih dari level terendah sesinya terhadap Pound Inggris (GBP) pada hari Rabu setelah data inflasi Jerman yang meningkat membantu menahan dampak sentimen risk-off akibat ketegangan di Timur Tengah. Pasangan mata uang EUR/GBP bergerak naik ke atas level 0,8540, meski momentum bearish jangka pendek masih membayangi setelah sempat turun dari level tertinggi pekan lalu di atas 0,8580.

Data resmi yang dirilis Kantor Statistik Jerman pada hari Rabu mengonfirmasi estimasi awal bahwa Indeks Harga Konsumen Diharmonisasi (HICP) naik menjadi 2,8% secara tahunan (yoy) pada bulan Juli dari 2,4% pada bulan Juni. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan inflasi sektor energi yang mencapai 7,3% dalam 12 bulan hingga Juli dari sebelumnya 2,7% pada bulan Juni.

Di sisi lain, pergerakan Pound relatif lebih kuat dibandingkan Euro di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah akibat serangan militan Houthi yang disokong Iran terhadap kapal Mesir di Laut Merah hingga menewaskan sejumlah awak. Pada saat yang sama, Angkatan Darat AS menembaki kapal kargo berbendera Panama yang berupaya menerobos blokade menuju pelabuhan-pelabuhan Iran.

Insiden tersebut membayangi prospek negosiasi damai antara AS dan Iran serta mendorong kenaikan harga minyak mentah. Harga Minyak Brent menguat hingga melampaui $88,00 per barel pada hari Rabu atau melonjak sekitar 13% dari titik tertinggi pekan lalu, sehingga memicu ancaman inflasi yang membebani perekonomian Zona Euro sebagai pengimpor minyak.

Di tengah sepinya agenda ekonomi Inggris pada hari Rabu, perhatian para investor tertuju pada rilis estimasi awal Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua yang dijadwalkan terbit pada hari Kamis guna membaca arah kebijakan moneter Bank of England selanjutnya.

Tim analis di Brown Brothers Harriman menyampaikan bahwa konsensus memproyeksikan “PDB riil tumbuh 0,4% q/q, dibandingkan 0,6% pada Kuartal I,” sebagaimana dilansir dari berita sumber. Mereka menambahkan bahwa BoE memperkirakan “pertumbuhan yang lebih lemah sebesar 0,3% q/q karena pertumbuhan pendapatan riil rumah tangga yang lebih rendah dan kondisi keuangan yang lebih ketat membebani permintaan domestik,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain itu, BoE juga “memprakirakan pertumbuhan konsumsi melambat menjadi 0,3% q/q pada Kuartal II dari 0,6% pada Kuartal I,” sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pihak Brown Brothers Harriman turut mengingatkan bahwa “tanpa kejutan positif pada PDB, ekspektasi suku bunga Inggris tampak rentan terhadap penyesuaian yang lebih dovish, yang dapat membebani Pound Sterling,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Akbar