Prospek Permintaan Melemah, Harga Minyak Turun Lebih dari 2 Persen

Ilustrasi minyak mentah (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 14 Agustus 2026 | 00:10:36 WIB

NEW YORK – Harga minyak mentah merosot melebihi 2% pada transaksi Kamis (13/8/2026), memutus kenaikan yang terjadi hampir sepekan terakhir. Tekanan pada pasar dipicu oleh melemahnya proyeksi permintaan dunia serta peningkatan signifikan pada persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Penurunan harga minyak sempat menembus lebih dari 3,5% pada sesi intraday sebelum akhirnya menahan sebagian koreksi setelah ada kabar serangan kelompok Houthi ke kilang Saudi Aramco di Arab Saudi. Potensi ancaman tersendatnya pasokan dari kawasan Timur Tengah kembali menyita perhatian para pelaku pasar.

Minyak jenis Brent ditutup melorot US$ 1,91 atau 2,15% ke level US$ 87,07 per barel. Penurunan ini sekaligus menyudahi tren penguatan yang sebelumnya berlangsung selama enam hari berturut-turut.

Pada saat yang sama, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 2,02 atau 2,4% menuju posisi US$ 81,25 per barel usai membukukan kenaikan sepanjang lima sesi. Beban utama berasal dari rilis data persediaan minyak AS.

Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat stok minyak mentah komersial membengkak 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus. Peningkatan ini menjadi yang tertinggi sejak Januari 2023 sekaligus menempatkan persediaan di posisi puncak sejak 5 Juni.

Lonjakan pasokan tersebut berlangsung di tengah menurunnya volume ekspor minyak mentah AS, sehingga memperkuat kecemasan bahwa konsumsi minyak tidak sekuat perkiraan sebelumnya. Prospek permintaan global pun kian meredup setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memotong estimasi pertumbuhan permintaan minyak dunia tahun 2026 menjadi 580.000 barel per hari.

Badan Energi Internasional (IEA) bahkan memproyeksikan konsumsi minyak tahun ini bakal menyusut 1,6 juta barel per hari, lebih dalam dari perkiraan penurunan bulan lalu sebesar 1 juta barel per hari. Menurut IEA, tingginya harga serta pembatasan pasokan akibat konflik AS-Israel dengan Iran turut menekan angka konsumsi.

Meskipun sentimen permintaan membayangi harga, ancaman gangguan pasokan tetap menahan kejatuhan harga minyak lebih lanjut. Laporan media Saba milik Houthi menyatakan kelompok tersebut telah menggempur kilang Aramco di Jazan, Arab Saudi, memakai dua drone pada Kamis.

Aksi serangan itu memicu kenaikan harga produk diesel hingga menyentuh angka tertinggi sepanjang sejarah. Merujuk pada laman resmi Saudi Aramco, kilang Jazan mempunyai kapasitas pengolahan 250.000 barel diesel ultra-rendah sulfur per hari.

Seseorang dari pihak militer Houthi mengungkapkan serangan tersebut merupakan tindakan balasan atas pelanggaran ruang udara serta kedaulatan Yaman oleh Arab Saudi. Pihak Pemerintah Arab Saudi sampai saat ini belum merilis respons atas laporan itu.

Di samping itu, dinamika di Selat Hormuz ikut menjaga kekhawatiran terkait pasokan minyak dunia. Pihak AS dan Iran menyampaikan klaim yang bertentangan mengenai kendali di jalur perairan vital tersebut.

Sebelum perang Iran pecah, kisaran 20% pasokan minyak dunia melintas di Selat Hormuz. Seorang pejabat senior pasukan Basij Iran menegaskan selat tersebut berada di bawah kendali dan pengelolaan Iran.

Klaim tersebut muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan AS memegang kendali penuh atas kawasan pelayaran itu. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz pun mengalami hambatan yang terbilang besar.

Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal non-kontainer yang melintas berkurang menjadi lima kapal pada Rabu, angka terendah dalam tiga pekan terakhir. Sebelum konflik meletus, sebanyak 125-140 kapal lalu lalang melintasi perairan tersebut setiap harinya.

"Berita yang saling bertentangan terus membentuk narasi mengenai siapa yang mengendalikan Selat Hormuz dan berapa banyak kapal yang dapat melintas," kata Kepala Ekonom Matador Economics Tim Snyder sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Tekanan pasokan tambahan juga muncul dari Rusia. Pengiriman produk minyak Rusia lewat jalur laut anjlok drastis pada Juli akibat serangan drone Ukraina yang memicu pemeliharaan mendadak di beberapa kilang utama.

Di Kota Orsk, fasilitas kilang minyak yang dihantam drone Ukraina dua hari sebelumnya terpaksa menghentikan seluruh kegiatan operasional. Gubernur daerah setempat menyebutkan proses perbaikan kilang tersebut diperkirakan memakan waktu sampai enam bulan.

Kondisi ini membuat pasar minyak berada di antara dua pengaruh besar: suramnya proyeksi permintaan serta bertambahnya stok AS yang menekan harga, sementara konflik Timur Tengah dan gangguan produksi di Rusia membatasi potensi penurunan harga yang lebih dalam.

Reporter: Akbar