Bursa Asia Melemah Mengekor Wall Street, Kospi Anjlok 3,77 Persen

Ilustrasi Bursa Asia melemah signifikan dipicu aksi jual saham semikonduktor dan koreksi Wall Street. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:00:27 WIB

JAKARTA – Mayoritas bursa Asia melemah pada perdagangan Rabu (19/8/2026) pagi. Pelemahan tersebut mengikuti koreksi Wall Street di tengah aksi jual saham semikonduktor yang semakin parah.

Mengutip Bloomberg, pada pukul 08.20 WIB, indeks Nikkei 225 turun 1.449,60 poin atau 2,16% ke level 66.005,31.

Hang Seng turun 124,25 poin atau 0,49% ke level 25.346,90. Taiex melemah 941,32 poin atau 2,04% ke level 44.341,64.

Kospi turun 259,31 poin atau 3,77% ke level 6.608,67. ASX 200 melemah 31,84 poin atau 0,35% ke level 9.036,50.

Straits Times turun 40,72 poin atau 0,70% ke level 5.661,82, sedangkan FTSE Malaysia melemah 5,53 poin atau 0,31% ke level 1.727,91.

Bursa Asia melemah seiring aksi jual saham sektor semikonduktor yang semakin dalam. Investor menarik diri dari pasar saham di tengah tingginya imbal hasil obligasi global dan ketidakpastian geopolitik.

Mengutip Bloomberg, indeks acuan MSCI Asia Pasifik turun 1,6%, sementara indeks saham Korea Selatan anjlok 5,5%.

Saham unggulan industri chip seperti Samsung Electronics Co dan SK Hynix Inc turun sekitar 7%. Penurunan tersebut mengikuti aksi jual saham semikonduktor di Wall Street.

Aksi jual obligasi mendorong yield obligasi AS tenor 10 tahun mendekati level tertinggi sejak awal 2025.

"Dengan prospek Timur Tengah yang tetap tidak pasti dan imbal hasil yang tetap tinggi, pasar kemungkinan akan tetap berada dalam mode penghindaran risiko hari ini," kata Kazunori Tatebe, kepala strategi di Daiwa Asset Management, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, yield yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan hyperscaler. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai prospek belanja modal dan potensi dampaknya terhadap perusahaan infrastruktur AI.

Tekanan terhadap saham teknologi dan semikonduktor terjadi ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Pergerakan tersebut juga dipengaruhi kenaikan biaya pendanaan dan kekhawatiran terhadap dampak suku bunga tinggi pada belanja infrastruktur AI.

Reporter: Ibtihal