KIJA Menguat 34,96 Persen, tetapi Kinerja Semester I Masih Tertekan

Ilustrasi Saham PT Jababeka Tbk (KIJA) melonjak 34,96% pada perdagangan Selasa (18/8). (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:00:42 WIB

JAKARTA – Saham PT Jababeka Tbk (KIJA) kembali menjadi perhatian investor seiring dengan pergerakan harga sahamnya. Saham KIJA ditutup di level Rp166 per saham, melonjak 34,96% dalam sehari pada Selasa (18/8).

Penguatan saham tersebut terjadi meskipun kinerja keuangan perseroan pada semester I 2026 masih berada di bawah tekanan. Pada 19 Agustus 2026, saham KIJA kembali melanjutkan penguatan dengan naik 3,01% ke Rp 171/saham berdasarkan data pukul 11.00 WIB.

PT Jababeka Tbk (KIJA) didirikan pada 1989 dan dikenal sebagai salah satu pengembang kawasan industri besar di Indonesia. KIJA merupakan emiten properti dengan bisnis utama berupa pengembangan kawasan industri terintegrasi yang berpusat di Kota Jababeka, Cikarang, serta Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah.

Perseroan tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 10 Januari 1995. Bisnis KIJA tidak hanya mengandalkan penjualan lahan, tetapi juga memiliki sumber pendapatan berulang dari infrastruktur, pembangkit listrik, jasa pemeliharaan, pariwisata, dan golf.

Model bisnis Jababeka menggabungkan pengembangan kawasan industri dengan berbagai fasilitas pendukung. Konsep ini membuat kawasan industri tidak hanya berfungsi sebagai lokasi pabrik, tetapi juga dilengkapi fasilitas komersial, residensial, infrastruktur, utilitas, serta pengelolaan kawasan.

Kota Jababeka di Cikarang menjadi salah satu aset utama perseroan. Kawasan tersebut berjarak sekitar 35 kilometer sebelah timur Jakarta dan terhubung dengan koridor Jakarta-Bandung.

Lini Usaha KIJA
Kegiatan bisnis KIJA dapat dibagi ke dalam beberapa lini utama.

Pengembangan Lahan dan Properti

Bisnis utama Jababeka mencakup pengembangan dan penjualan lahan industri, properti residensial dan komersial, serta bangunan pendukung. Kawasan Cikarang menjadi salah satu pusat utama kegiatan bisnis tersebut.

Sementara itu, Kawasan Industri Kendal menjadi salah satu sumber pertumbuhan yang semakin penting bagi perseroan. Pada 2025, kontribusi segmen real estate mencapai sekitar Rp2,46 triliun berdasarkan laporan kinerja tahunan KIJA.

Infrastruktur dan Jasa Pemeliharaan

KIJA juga memperoleh pendapatan dari pengelolaan infrastruktur kawasan industri. Lini bisnis ini mencakup pengelolaan kawasan, air, air limbah, pemeliharaan infrastruktur, serta layanan pendukung bagi tenant.

Bisnis tersebut membuat KIJA memiliki sumber pendapatan berulang sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan lahan baru. Pada semester I 2026, pilar infrastruktur menjadi sumber pendapatan yang semakin dominan.

Pembangkit Listrik

Jababeka memiliki bisnis pembangkit dan distribusi listrik untuk mendukung kebutuhan kawasan industri. Segmen pembangkit listrik menjadi salah satu kontributor pendapatan terbesar KIJA.

Pada 2025, pendapatan dari sektor pembangkit listrik mencapai sekitar Rp1,81 triliun. Bisnis tersebut juga mendukung kebutuhan utilitas di kawasan industri yang dikelola perseroan.

Dry Port

KIJA memiliki bisnis logistik melalui fasilitas dry port yang mendukung aktivitas industri dan distribusi barang. Bisnis tersebut menjadi bagian dari ekosistem kawasan industri Jababeka.

Keberadaan dry port memberikan tambahan pendapatan bagi perseroan di luar penjualan lahan. Fasilitas ini juga mendukung kelancaran aktivitas logistik para tenant di kawasan industri.

Golf dan Leisure

Perseroan memiliki lini usaha golf dan fasilitas rekreasi. Pada 2025, segmen golf menyumbang sekitar Rp82,46 miliar.

Pariwisata

Jababeka juga menjalankan bisnis pariwisata, termasuk pengembangan kawasan wisata dan fasilitas pendukung. Portofolionya mencakup pengembangan kawasan seperti Tanjung Lesung dan Morotai.

Susunan Manajemen KIJA
Berikut ini informasi mengenai susunan manajemen KIJA.

Direksi

  • Nama: Setyono Djuandi Darmono
    Posisi: Direktur Utama
    Terafiliasi: Ya
  • Nama: Tedjo Budianto Liman
    Posisi: Wakil Direktur Utama
    Terafiliasi: Ya
  • Nama: Tjahjadi Rahardja
    Posisi: Direktur
    Terafiliasi: Ya
  • Nama: Hyanto Wihadhi
    Posisi: Direktur
    Terafiliasi: Ya

Dewan Komisaris

  • Nama: Drs. H. Suhardi Alius, M.H.
    Posisi: Komisaris Utama
    Independen: Ya
  • Nama: Gan Michael
    Posisi: Komisaris
    Independen: Tidak
  • Nama: Basuri Tjahaja Purnama
    Posisi: Komisaris
    Independen: Ya

Kinerja Keuangan Q2 2026
Mengutip data BEI, KIJA membukukan rugi bersih sebesar Rp177,9 miliar pada kuartal II 2026. Hasil tersebut berbalik dari laba bersih Rp310,7 miliar pada periode yang sama tahun 2025, sehingga perseroan mencatat rugi bersih per saham sebesar Rp8,54 per lembar.

Dari sisi pendapatan, KIJA mencatat Rp2,44 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut turun 10,6% secara tahunan dibandingkan Rp2,73 triliun pada semester I 2025.

Laba kotor juga turun 24,7% menjadi Rp840,5 miliar dari sebelumnya Rp1,12 triliun. Sementara itu, EBITDA merosot 36,7% menjadi Rp533,1 miliar.

Jika dibandingkan dengan kuartal I 2026, pendapatan KIJA meningkat 104,4% dari Rp1,19 triliun menjadi Rp2,44 triliun. Laba kotor naik 94,5%, sedangkan EBITDA tumbuh 90,7%.

Namun, laba bersih berbalik turun 407,8% secara kuartalan. Perseroan sebelumnya membukukan laba Rp57,8 miliar pada kuartal I 2026, tetapi mencatat rugi Rp177,9 miliar pada semester I 2026.

Itulah informasi mengenai profil emiten KIJA yang melanjutkan kinerja positif pada perdagangan pekan ini.

Reporter: Ibtihal