Pasokan Mengetat Harga CPO Tembus Rekor Tertinggi dalam 20 Bulan Terakhir

Ilustrasi minyak sawit(FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 21 Agustus 2026 | 23:49:50 WIB

JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali melonjak hingga mencatatkan level tertinggi sejak Desember 2024 atau dalam kurun waktu sekitar 20 bulan lebih.

Penguatan harga ini didorong oleh prospek kenaikan permintaan biofuel serta ancaman penurunan produksi akibat kondisi cuaca seiring berkembangnya fenomena El Niño.

Sebagai produsen sawit terbesar di dunia, Indonesia baru saja mulai menerapkan kebijakan mandat biodiesel B50 yang cukup ambisius.

Langkah ini diproyeksikan bakal menyerap lebih banyak pasokan minyak sawit untuk kebutuhan energi domestik sehingga berpotensi memangkas volume ekspor nasional.

Sementara itu, periode cuaca kering mulai melanda kawasan perkebunan sawit di Indonesia dan Malaysia selaku produsen terbesar kedua di dunia.

Fenomena El Niño umumnya memicu kondisi iklim yang lebih kering di kawasan Asia Tenggara sehingga berisiko menekan angka produksi sawit.

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memproyeksikan stok minyak sawit global bakal merosot ke level terendah dalam sembilan tahun terakhir pada musim 2026/2027.

Prospek cuaca yang kurang menguntungkan tersebut turut memicu peningkatan aksi beli spekulatif di pasar komoditas.

Para pelaku pasar memperkirakan bahwa fenomena El Niño akan menekan total produksi dari Indonesia dan Malaysia, menurut Budiman Suwardi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kepala Divisi Treasury dan Markets dari Prime EcoHarvest Commodities tersebut menambahkan bahwa para pembeli juga berupaya mengamankan pasokan sebelum tanggal 1 Oktober, yakni ketika mandat B50 di Indonesia berjalan secara penuh, katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kontrak berjangka CPO di Kuala Lumpur sempat melesat hingga 1,7% menuju level MYR4.977 per ton atau setara Rp21,8 juta per ton (MYR1 = Rp4.379) pada Kamis (20/8/2026).

Capaian angka tersebut menjadi titik tertinggi baru yang berhasil tersentuh sejak Desember 2024.

Berdasarkan data Refinitiv, harga CPO kemudian mengakhiri sesi perdagangan di level MYR4.961 per ton atau terhitung naik 1,39% dibanding posisi penutupan hari sebelumnya.

Kenaikan harga CPO ini terjadi berbarengan dengan menguatnya sejumlah komoditas pangan utama lain seperti jagung dan gula, yang berisiko memperberat inflasi pangan.

Hambatan pasokan juga dipicu oleh situasi perselisihan di kawasan Laut Hitam akibat serangan belakangan ini yang menghambat ekspor pertanian dari Rusia dan Ukraina.

Mengingat kedua negara tersebut adalah pemasok utama minyak bunga matahari dunia, para pembeli mulai mengalihkan pesanan ke minyak nabati alternatif guna menutupi defisit pasokan.

Menurut Gnanasekar Thiagarajan, Kepala Divisi Trading and Hedging Strategies Kaleesuwari Intercontinental Ltd., pencapaian harga CPO pada hari Kamis merupakan titik technical breakout karena berhasil menembus level batas sebelumnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meski demikian, terdapat beberapa faktor penahan yang dapat membatasi penguatan harga lebih jauh, seperti penguatan mata uang ringgit Malaysia dan harga minyak kedelai yang masih relatif kompetitif.

Reporter: Akbar