JAKARTA – Saham Strategy kembali menguat dan menyentuh posisi tertinggi dalam 2 bulan pada hari Jumat. Melonjaknya harga saham tersebut terjadi setelah harga Bitcoin sempat berada di angka US$ 79.400, yang berhasil mengembalikan sebagian nilai pasar yang sebelumnya hilang akibat aksi jual kripto.
Dikutip dari CoinMarketCap pada Sabtu (22/8/2026), saham beremiten MSTR tersebut mengalami kenaikan sebesar 7,5% hingga melampaui US$ 120 pada awal sesi perdagangan.
Penguatan ini tetap berlangsung walaupun Strategy tercatat tidak melakukan pembelian Bitcoin dalam jangka waktu sekitar 2 bulan belakangan. Perusahaan justru memanfaatkan momentum penghimpunan modal guna memperbesar cadangan kas, membayar dividen saham preferen, serta membeli kembali sebagian sekuritas preferen yang dimilikinya.
Hingga saat ini, Strategy masih memegang posisi sebagai perusahaan dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia. Perusahaan tersebut menguasai 840.447 BTC yang bernilai sekitar US$ 65,2 miliar berdasarkan tingkat harga saat ini.
Membaiknya harga Bitcoin turut membuat portofolio kepemilikan Strategy kembali membukukan keuntungan yang belum direalisasikan sekitar US$ 1,6 miliar.
Pergerakan harga Bitcoin dan saham MSTR memiliki keterkaitan yang sangat erat. Setiap kali harga Bitcoin melonjak, nilai aset yang dikuasai Strategy akan ikut terangkat.
Fenomena ini juga dapat memperkokoh keyakinan para pemodal terhadap kapabilitas perusahaan dalam mengeksekusi strategi investasi aset digital.
Meski demikian, jeda sementara dalam pembelian Bitcoin mengindikasikan bahwa Strategy kini lebih memprioritaskan aspek likuiditas setelah dinamika volatilitas pasar menekan harga saham preferen milik perusahaan.
Di samping saham MSTR, para pemodal turut mencermati pemulihan harga saham preferen Strategy, yaitu Variable Rate Series A Perpetual Stretch Preferred Stock atau STRC.
Pada perdagangan Jumat, STRC berhasil diperdagangkan di atas level US$ 96 untuk pertama kalinya sejak Juni. Angka ini makin mendekati US$ 100, yang merupakan acuan harga yang dirancang untuk dipertahankan melalui penyesuaian tingkat dividen setiap bulannya.
Sebelumnya, STRC sempat merosot hingga di bawah US$ 70 tatkala aksi jual kripto melanda pasar. Kondisi tersebut sempat memicu kekhawatiran terkait kemampuan Strategy dalam memenuhi kewajiban pembayaran dividen yang menawarkan hasil sekitar 11,5% per tahun.
Rebound harga STRC ke atas US$ 96 cukup meredakan beban tersebut sekaligus memberi fleksibilitas lebih bagi Strategy dalam mengelola skema pendanaan untuk strategi Bitcoin.
Sepanjang pekan ini, Strategy mengumumkan telah melepas saham MSTR senilai US$ 333,7 juta dalam rentang 10-16 Agustus tanpa melakukan aktivitas beli atau jual Bitcoin.
Dari dana yang terkumpul, sebanyak US$ 52,4 juta dialokasikan untuk membayar dividen STRC. Sementara itu, sejumlah US$ 132,2 juta dimanfaatkan guna membeli kembali STRC melalui program Digital Credit Securities Repurchase Program.
Strategy juga memperbesar cadangan mata uang dolar AS hingga menyentuh US$ 4,8 miliar. Cadangan kas ini disiapkan untuk membantu perusahaan menjaga kewajiban dividen apabila harga Bitcoin kembali melorot dalam durasi panjang atau jika akses ke pasar saham menjadi lebih terbatas.
Langkah yang diambil Strategy menandakan bahwa akumulasi Bitcoin bukan lagi menjadi satu-satunya fokus utama perusahaan. Pembentukan cadangan kas serta pembelian kembali STRC ditujukan untuk menekan beban pada struktur pendanaan sebelum perusahaan kembali memicu aktivitas pembelian Bitcoin.
Penundaan pembelian Bitcoin selama kurang lebih 2 bulan ini belum tentu mencerminkan pergeseran strategi jangka panjang. Namun, kebijakan tersebut memperlihatkan betapa krusialnya menjaga likuiditas setelah harga saham preferen perusahaan sempat berada dalam tekanan.
Selama ini, Strategy bergantung pada kombinasi penerbitan saham biasa dan saham preferen guna mendanai akumulasi Bitcoin. Skema tersebut dapat beroperasi secara optimal apabila harga sekuritas perusahaan berada pada angka yang sehat.
Selain situasi pasar, para investor juga perlu mengantisipasi persoalan indeks. TD Cowen menyatakan penolakan terhadap usulan metodologi MSCI yang berpotensi mengeluarkan Strategy beserta perusahaan treasury aset digital lainnya dari indeks ACWI IMI.
Apabila tereleminasi dari indeks utama tersebut, saham Strategy berisiko menghadapi gelombang tekanan jual dari dana pasif yang mengacu pada indeks bersangkutan.
Di lain pihak, minat terhadap saham MSTR mulai berdatangan dari entitas lain. Perusahaan asal China, MicroCloud Hologram, mengamankan 140.268 saham Strategy melalui skema penyelesaian structured notes.
Ke depan, perhatian para pemodal akan tertuju pada ketahanan Bitcoin dalam menjaga tren pemulihan serta pergerakan STRC menuju angka US$ 100. Jika kedua aset tersebut terus menguat, Strategy akan memiliki keleluasaan yang lebih besar untuk kembali menghimpun modal dan mengakulasi Bitcoin.