Warren Buffett Sarankan 90 Persen Warisan Masuk Indeks S&P 500

Buffett menekankan pentingnya diversifikasi dan likuiditas dalam pengelolaan warisan. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:09:28 WIB

JAKARTA – Investor kawakan Warren Buffett memiliki strategi sederhana untuk mengelola warisan yang akan diterima istrinya setelah ia meninggal dunia.

Sebanyak 90 persen dana tersebut disarankan ditempatkan pada reksa dana indeks berbiaya rendah yang mengikuti indeks S&P 500. Sementara itu, 10 persen sisanya ditempatkan pada obligasi pemerintah AS berjangka pendek.

Strategi tersebut diungkapkan Warren Buffett dalam surat kepada para pemegang saham Berkshire Hathaway pada 2013. Saat itu, Buffett menjelaskan sejumlah arahan yang telah dicantumkan dalam surat wasiatnya.

"Suatu warisan mengatur agar uang tunai diserahkan kepada wali amanat untuk kepentingan istri saya. Saran saya kepada wali amanat sangat sederhana: tempatkan 10 persen uang tunai pada obligasi pemerintah jangka pendek dan 90 persen pada reksa dana indeks S&P 500 berbiaya sangat rendah," tulis Buffett, Minggu (23/8/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Strategi tersebut menunjukkan bahwa Buffett tidak menganggap pengelolaan kekayaan harus selalu dilakukan melalui pemilihan saham secara aktif.

Pilihan Buffett terhadap S&P 500 tidak terlepas dari rekam jejak indeks tersebut dan keyakinannya terhadap strategi investasi jangka panjang.

Berkshire Hathaway, perusahaan yang dipimpin Buffett, telah menghasilkan keuntungan besar bagi para pemegang sahamnya. Dari 1964 hingga 2025, saham Berkshire Hathaway mencatat kenaikan keseluruhan sebesar 6.099.294 persen.

Angka tersebut berarti nilai investasi mengalami peningkatan lebih dari enam juta persen selama periode tersebut.

Meski demikian, Buffett tidak meminta seluruh dana warisan istrinya ditempatkan pada saham. Ia tetap menyarankan sebagian dana berada pada instrumen yang relatif lebih aman dan likuid.

Lebih dari satu dekade setelah saran tersebut disampaikan, S&P 500 juga terus menghadapi berbagai gejolak pasar, termasuk ketidakpastian yang berkaitan dengan perang di Iran.

Strategi Buffett relatif sederhana karena tidak membutuhkan pemantauan pasar secara terus-menerus maupun aktivitas jual beli saham secara aktif.

Buffett telah lama menyatakan bahwa investor biasa sebaiknya tidak terlalu mengandalkan kemampuan memilih saham individual.

Dalam rapat tahunan pemegang saham Berkshire Hathaway pada 2021, Buffett bahkan mengatakan, "Saya tidak berpikir orang biasa dapat memilih saham.", sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reksa dana indeks menjadi salah satu alternatif karena memungkinkan investor mendapatkan eksposur terhadap banyak perusahaan dari berbagai sektor sekaligus.

Dengan berinvestasi pada indeks, risiko tidak hanya bergantung pada kinerja satu atau beberapa perusahaan. Strategi ini juga memungkinkan investor memperoleh manfaat dari pertumbuhan pasar saham secara lebih luas.

S&P 500 merupakan indeks yang berisi saham 500 perusahaan besar di Amerika Serikat dan kerap digunakan sebagai indikator kinerja pasar saham AS.

Pada 2025, S&P 500 naik 16,39 persen. Jika dividen diperhitungkan, kenaikannya mencapai 17,88 persen.

Meski 90 persen dana disarankan masuk ke reksa dana indeks S&P 500, Buffett tetap mengalokasikan 10 persen pada obligasi pemerintah AS berjangka pendek.

Obligasi pemerintah jangka pendek dapat menjadi pilihan bagi investor yang menginginkan risiko lebih rendah serta sumber pendapatan yang relatif stabil dan dapat diprediksi.

Instrumen tersebut juga cenderung lebih likuid dibandingkan obligasi berjangka panjang. Artinya, investor dapat mengakses dana dengan lebih mudah tanpa menghadapi penalti atau penurunan nilai yang signifikan akibat perubahan harga obligasi.

Namun, pembagian investasi yang tepat tetap bergantung pada kondisi keuangan, tujuan investasi, dan toleransi risiko masing-masing investor.

Alokasi 90 persen saham dan 10 persen obligasi yang disarankan Buffett juga berbeda dengan strategi portofolio 60:40 yang secara umum membagi investasi antara saham dan obligasi.

Kondisi keuangan setiap orang berbeda. Investor memiliki kewajiban, tujuan keuangan, serta tingkat toleransi risiko yang tidak sama.

Bagi investor dengan portofolio senilai 250.000 dollar AS atau lebih, misalnya, keputusan keuangan dapat menjadi semakin kompleks.

Pengelolaan penarikan dana, upaya mengurangi beban pajak, hingga memastikan portofolio dapat bertahan dalam jangka panjang membutuhkan perencanaan yang lebih matang.

Dalam kondisi seperti itu, menggunakan jasa penasihat keuangan dapat membantu investor menghindari kesalahan yang berpotensi menimbulkan biaya besar.

Pada akhirnya, pesan utama dari strategi Buffett bukan semata-mata soal menempatkan 90 persen dana pada S&P 500.

Strategi tersebut juga mencerminkan pendekatan investasi jangka panjang yang sederhana, terdiversifikasi, berbiaya rendah, dan tidak bergantung pada aktivitas perdagangan saham secara terus-menerus.

Reporter: Ibtihal