AS Tolak Kesepakatan dengan Iran, Harga Minyak Dunia Naik 2 Persen

Ilustrasi Minyak Dunia (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:42:54 WIB

JAKARTA – Harga minyak dunia melonjak sekitar 2 persen pada penutupan perdagangan Kamis (27/8/2026) waktu setempat atau Jumat (28/8/2026) pagi WIB. Kenaikan ini terjadi usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak untuk kembali pada kesepakatan yang sebelumnya dijalin dengan Iran pada Juni.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent menguat 1,86 dollar AS atau 2,1 persen menjadi 89,70 dollar AS per barrel. Di sisi lain, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 1,30 dollar AS atau 1,6 persen menjadi 83,53 dollar AS per barrel.

Lonjakan ini sekaligus menghentikan tren penurunan harga minyak yang sempat berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Penguatan harga minyak dipicu oleh berkurangnya optimisme investor terkait peluang tercapainya terobosan diplomatik antara AS dan Iran guna menambah pasokan minyak dari Timur Tengah.

Laporan Wall Street Journal yang dikutip Reuters mengungkapkan bahwa pihak pemerintahan Trump berulang kali menegaskan kepada para mediator bahwa AS tidak berminat menghidupkan kembali kesepakatan bulan Juni. Kondisi ini kian membebani upaya diplomatik untuk membuka kembali ruang negosiasi antara kedua negara.

"Kurangnya kemajuan dalam perundingan, ditambah dengan aliran (minyaky) yang terus terbatas, dapat mendorong pasar untuk menyesuaikan kembali pandangannya," ujar Analis UBS, Giovanni Staunovo sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada hari Kamis, Washington turut mengonfirmasi bahwa AS tidak sedang menjalin perundingan dengan pihak Iran walau beberapa negara berupaya memfasilitasi dialog. Trump bahkan menegaskan bahwa AS tidak berniat untuk berdiskusi ataupun bertemu dengan pihak Iran.

"Kami tidak ingin berbicara dengan mereka. Kami juga tidak ingin bertemu atau melakukan hal semacam itu," kata Trump sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Trump menyatakan bahwa AS kini memfokuskan tindakan pada tekanan ekonomi terhadap Teheran dan siap menjatuhkan sanksi bagi negara yang berbisnis dengan Iran. Pada Senin (24/8/2026), AS resmi mengumumkan sanksi yang diklaim sebagai tindakan "terberat dalam sejarah" terhadap Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebutkan bahwa langkah sanksi ini dapat menekan kebutuhan untuk melancarkan operasi militer baru dalam skala besar. Namun, Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menilai sanksi tersebut sebagai tindakan bermusuhan yang tidak manusiawi serta diyakini telah kehilangan efektivitasnya.

Di waktu yang sama, Perdana Menteri Qatar melakukan kunjungan ke Teheran pada Kamis demi mengupayakan kembali jalur diplomasi untuk menghentikan perang AS-Israel dengan Iran yang telah berjalan hampir enam bulan. Meski demikian, pejabat keamanan senior Iran Mohsen Rezaei memberi peringatan bahwa Teheran bakal menargetkan aset militer dan ekonomi AS apabila Washington melakukan tindakan provokatif selama proses diskusi bersama pejabat Qatar.

Kepala Market Insights Phillip Nova Priyanka Sachdeva menilai persoalan utama konflik ini terletak pada program nuklir Iran yang sulit diselesaikan dalam waktu dekat.

"Iran juga memahami pentingnya posisi geografisnya dan pengaruh yang dimiliki Selat Hormuz, sehingga risiko ketidakpastian yang berkepanjangan masih ada," ujar Sachdeva sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi lalu lintas energi global. Sebelum konflik mencuat pada akhir Februari, sekitar satu per lima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintasi selat ini setiap harinya.

Berdasarkan data Kpler, volume lalu lintas kapal yang melewati Selat Hormuz sempat mengalami sedikit peningkatan pada Rabu (26/8/2026). Tercatat ada 10 kapal pengangkut komoditas yang melintas, beranjak naik dari titik terendah beberapa waktu terakhir.

Meski begitu, angka tersebut masih berada di bawah rata-rata harian 10 hari terakhir yang mencapai 15 kapal per hari. Sementara itu, Kuwait Integrated Petroleum Industries Co mulai mengoperasikan kembali tiga unit pengolahan minyak mentah di kilang Al-Zour pada tingkat kapasitas 60 persen.

Kilang yang memiliki kapasitas total 615.000 barrel per hari tersebut sebelumnya sempat dihantam serangan drone Iran pada Mei lalu.

Reporter: Akbar