Saham PWON Defensif dengan Recurring Income
JAKARTA – Kinerja emiten properti masih tertekan suku bunga tinggi. IDX Properties and Real Estate turun 29,65 persen sejak awal tahun, lebih dalam dibanding IHSG yang turun 24,62 persen.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, menyebut ada tiga faktor utama tekanan sektor properti. Pertama, pasar saham Indonesia mengalami risk-off dan de-rating. Kedua, BI rate naik dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen sejak Juni. Ketiga, koreksi dalam terjadi pada saham berkapitalisasi besar seperti PANI dan CBDK.
Harga PANI turun dari Rp12.400 akhir 2025 menjadi Rp5.925 per saham pada 28 Agustus 2026. CBDK juga terkoreksi dari Rp8.750 menjadi Rp3.800 per saham.
Ester menilai keputusan BI menahan suku bunga hanya berarti tekanan tidak bertambah, belum menjadi stimulus baru. Katalis positif baru muncul jika pasar yakin siklus kenaikan suku bunga berakhir dan BI mulai menurunkan bunga KPR.
“Hal ini penting karena sekitar 70,05 persen pembelian rumah primer masih menggunakan fasilitas KPR,” jelas Ester, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim, menambahkan suku bunga tinggi masih menjadi sentimen negatif bagi properti. Permintaan belum pulih sehingga menekan presales developer.
Ester menilai prospek semester II-2026 lebih baik berkat insentif PPN DTP 100 persen untuk rumah/apartemen hingga Rp5 miliar dan kebijakan LTV serta FTV 100 persen.
Secara operasional, PANI mencatat marketing sales Rp1,9 triliun, naik 66 persen yoy, pendapatan Rp2,9 triliun, dan laba bersih Rp1,7 triliun, melonjak 484 persen.
BSDE mencatat marketing sales Rp5,12 triliun atau 51 persen dari target Rp10 triliun, naik tipis 1 persen yoy. Namun pendapatan turun 26 persen dan laba bersih turun 53 persen.
SMRA mencatat presales Rp2,5 triliun, naik 17 persen, tetapi laba bersih turun 34 persen karena beban pembiayaan tinggi.
CTRA mencatat presales Rp4,7 triliun, turun 18 persen yoy, dan laba turun 11 persen.
PWON lebih defensif dengan recurring income dari mal, hotel, dan perkantoran. Pendapatan berulang semester I tumbuh 7 persen menjadi Rp2,89 triliun.
Kevin menilai katalis positif properti baru muncul jika tekanan rupiah menurun dan ekonomi global membaik. Ia merekomendasikan beli BSDE dengan target Rp1.050, CTRA Rp850, PWON Rp430, dan SMRA Rp470 per saham, sebagaimana dilansir dari berita sumber.