Harga Pangan Naik Lagi Daging Ayam dan Beras Dorong Inflasi Agustus 2026

Ilustrasi Daging Ayam (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Selasa, 01 September 2026 | 21:07:55 WIB

JAKARTA – Tekanan harga pangan kembali terasa pada Agustus 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa (1/9/2026) melaporkan, komponen bahan makanan mengalami inflasi 4,22 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 0,71 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).

Kenaikan harga bahan makanan tersebut turut mendorong inflasi nasional Agustus 2026 yang mencapai 3,19 persen secara tahunan.

Secara bulanan, inflasi tercatat 0,21 persen, sedangkan secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date/ytd) mencapai 1,86 persen.

BPS menyebut, perkembangan harga berbagai komoditas pada Agustus 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan.

Berdasarkan hasil pemantauan BPS di 150 kabupaten/kota, terjadi inflasi tahunan sebesar 3,19 persen, atau kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 108,51 pada Agustus 2025 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.

Di tengah inflasi nasional tersebut, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama.

Kelompok ini mengalami inflasi tahunan 3,86 persen dan memberikan andil 1,13 persen terhadap inflasi nasional.

Secara bulanan, kelompok makanan, minuman dan tembakau juga mengalami inflasi 0,57 persen, dengan andil sebesar 0,17 persen.

Sejumlah komoditas pangan tercatat memberikan tekanan terhadap inflasi pada Agustus 2026.

BPS mencatat, pada perhitungan bulanan, daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni 0,17 persen. Setelah itu, cabai rawit, ikan segar, dan beras masing-masing memberikan andil 0,02 persen.

Selain itu, terdapat sejumlah komoditas pangan lain yang turut memberikan andil terhadap inflasi bulanan, yakni kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, dan semangka, yang masing-masing memberikan andil 0,01 persen.

Kenaikan harga tersebut terjadi ketika secara keseluruhan komponen bahan makanan mencatat inflasi 0,71 persen secara bulanan. Komponen ini juga memberikan andil 0,15 persen terhadap inflasi Agustus 2026 secara bulanan.

Jika dilihat secara tahunan, tekanan dari komponen bahan makanan lebih besar. Inflasinya mencapai 4,22 persen dengan andil 0,87 persen terhadap inflasi nasional.

Dalam perhitungan tahunan, daging ayam ras juga masuk dalam daftar komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi.

BPS mencatat lima komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan Agustus 2026, yakni minyak goreng sebesar 0,53 persen, daging ayam ras 0,31 persen, emas perhiasan 0,24 persen, bensin 0,22 persen, dan ikan segar 0,13 persen.

Dengan demikian, komoditas pangan mendominasi daftar penyumbang utama inflasi tahunan. Minyak goreng dan daging ayam ras berada di posisi teratas, disusul ikan segar.

Dalam penjelasan BPS, komoditas yang dominan memberikan andil inflasi tahunan juga mencakup beras, cabai rawit, daging sapi, cabai merah, serta sejumlah komoditas nonpangan seperti sigaret, bahan bakar rumah tangga, bensin, tarif angkutan udara, telepon seluler, dan emas perhiasan.

Sementara itu, tidak semua komoditas pangan mengalami kenaikan harga. BPS mencatat sejumlah komoditas justru memberikan andil deflasi tahunan, yakni bawang merah sebesar 0,19 persen, telur ayam ras 0,07 persen, tomat 0,03 persen, serta kelapa 0,01 persen.

Beras dan cabai rawit menjadi bagian dari komoditas yang memberikan tekanan pada inflasi Agustus, terutama secara bulanan.

Beras memberikan andil 0,02 persen terhadap inflasi bulanan, sama seperti cabai rawit dan ikan segar. Sementara itu, daging ayam ras memberikan andil jauh lebih besar, yakni 0,17 persen.

Komoditas-komoditas tersebut membuat tekanan harga bahan makanan pada Agustus 2026 tetap terlihat meskipun inflasi nasional secara bulanan hanya mencapai 0,21 persen.

Dalam komponen inflasi, bahan makanan mencatat laju kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan inflasi umum. Secara tahunan, inflasi bahan makanan mencapai 4,22 persen, sedangkan inflasi umum 3,19 persen.

Pergerakan harga pangan pada Agustus 2026 tidak sepenuhnya bergerak dalam satu arah.

Selain bawang merah, telur ayam ras, tomat, dan kelapa yang memberikan andil deflasi secara tahunan, beberapa komoditas juga mencatat penurunan harga dibandingkan Juli 2026.

Secara bulanan, BPS mencatat bawang merah memberikan andil deflasi 0,06 persen, tomat 0,05 persen, bawang putih 0,02 persen, sedangkan minyak goreng dan bayam masing-masing 0,01 persen.

Artinya, tekanan inflasi pangan pada Agustus 2026 terbentuk dari pergerakan sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan, sementara komoditas lainnya justru menahan laju kenaikan harga.

Secara keseluruhan, inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan, naik dari 2,31 persen pada Agustus 2025 dan 2,12 persen pada Agustus 2024.

Secara bulanan, inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21 persen, sementara inflasi tahun kalender mencapai 1,86 persen.

Selain kelompok makanan, minuman dan tembakau, sejumlah kelompok pengeluaran lain juga mengalami inflasi tahunan.

Kelompok transportasi mencatat inflasi 4,79 persen, sedangkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi paling tinggi, yakni 9,25 persen.

Namun, dari sisi komponen, bahan makanan tetap menunjukkan tekanan yang cukup kuat. Komponen tersebut mencatat inflasi tahunan 4,22 persen dan memberikan andil 0,87 persen terhadap inflasi nasional.

BPS juga mencatat, pada Agustus 2026 komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi tahunan 4,06 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi komponen inti sebesar 2,92 persen.

Komponen harga bergejolak memberikan andil 0,67 persen terhadap inflasi tahunan.

Reporter: Akbar