BBCA dan BBRI Pertahankan Posisi Puncak Kapitalisasi Pasar

Ilustrasi IHSG 2026 menyebabkan pergeseran signifikan dalam kapitalisasi pasar emiten terbesar di BEI. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 01 September 2026 | 22:51:41 WIB

JAKARTA — Tekanan pada IHSG sepanjang tahun 2026 menyebabkan pergeseran peta emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.

Jika dibandingkan akhir 2025, sejumlah saham besar berguguran. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi yang paling turun signifikan.

Pada penutupan 31 Desember 2025, market cap BREN sebesar Rp1.298 triliun. Hingga akhir perdagangan Senin (31 Agustus 2026), kapitalisasi pasar BREN hanya Rp444 triliun dan menempati posisi kelima.

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga mengalami penurunan besar. Dari Rp778 triliun di akhir 2025, kini hanya tersisa Rp214 triliun.

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) keluar dari jajaran 10 besar. Market cap yang sebelumnya Rp606 triliun kini tinggal Rp169 triliun.

Di sisi lain, beberapa saham berhasil naik peringkat. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencatat kapitalisasi pasar Rp469 triliun dan menempati posisi keempat.

PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) juga masuk ke jajaran 10 besar dengan market cap Rp265 triliun per Senin (31 Agustus 2026).

Posisi puncak tetap dikuasai PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan market cap Rp790 triliun. Disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp488 triliun.

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah menjelaskan penurunan BREN dan DSSA dipicu keputusan penyedia indeks global maupun domestik yang mengeluarkan kedua saham itu dari konstituen.

MSCI mengeluarkan BREN dan DSSA dalam rebalancing Mei 2026 karena masuk kategori High Shareholding Concentration. FTSE Russell juga mengeluarkan DSSA dalam rebalancing Juni 2026 dengan alasan serupa.

“Penurunan ini tidak hanya terlihat di kedua saham itu, tetapi saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar lainnya. Meskipun penurunannya tidak signifikan dua saham tersebut,” jelasnya, Senin (31 Agustus 2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Fath menilai kenaikan BYAN terjadi karena tekanan saham ini tidak sebesar lainnya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan perubahan peta kapitalisasi pasar mencerminkan ekspektasi investor terhadap valuasi dan fundamental emiten.

“Perubahan peta kapitalisasi pasar saham-saham terbesar di BEI sepanjang 2026 merupakan kombinasi antara re-rating atau de-rating valuasi, perubahan ekspektasi terhadap prospek fundamental emiten, serta sentimen dan rumor korporasi,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

BYAN dikabarkan akan diakuisisi oleh Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Sementara kenaikan MORA dipicu merger dengan PT Eka Mas Republik atau MyRepublic.

Nafan mengingatkan risiko koreksi tetap terbuka bagi BYAN jika rumor akuisisi tidak terealisasi. Investor berpotensi melakukan profit taking.

“Apabila rumor akuisisi tersebut pada akhirnya tidak terealisasi, ada risiko koreksi tetap ada karena sebagian investor yang masuk berdasarkan ekspektasi aksi korporasi dapat melakukan profit taking atau sell on news,” jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Masuknya MORA ke jajaran kapitalisasi pasar terbesar mencerminkan ekspektasi sinergi pasca merger dengan MyRepublic, terutama dari sisi perluasan basis pelanggan dan efisiensi operasional.

“Masuknya MORA ke jajaran kapitalisasi pasar terbesar juga mencerminkan ekspektasi pasar terhadap sinergi pasca merger dengan MyRepublic, terutama dari sisi perluasan basis pelanggan, efisiensi operasional, dan penguatan posisi di industri fixed broadband,” ucap Nafan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nafan menilai penurunan market cap BREN, DSSA, dan TPIA menunjukkan normalisasi valuasi setelah apresiasi tinggi sebelumnya. Investor kini lebih selektif terhadap pertumbuhan laba dan kualitas fundamental.

“Penurunan market cap BREN, DSSA, dan TPIA menunjukkan adanya normalisasi valuasi setelah sebelumnya mengalami apresiasi yang sangat tinggi, sehingga investor menjadi lebih selektif terhadap pertumbuhan laba dan kualitas fundamental,” kata dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, perubahan market cap bisa menjadi sinyal awal screening saham, tetapi belum cukup untuk dasar keputusan beli atau jual tanpa mempertimbangkan valuasi dan fundamental.

Dari jajaran 10 besar, Nafan masih menjagokan saham perbankan dengan target harga:

  • BBCA Rp7.900
  • BBRI Rp3.440
  • BMRI Rp4.720

Reporter: Ibtihal