Perang Iran Bikin Indonesia Gandakan Konsumsi Batu Bara demi Aluminium

Ilustrasi Batu Bara (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 02 September 2026 | 22:34:31 WIB

JAKARTA – Indonesia berambisi memacu produksi aluminium di tengah gangguan pasokan global akibat perang Iran yang memicu lonjakan harga logam tersebut. Demi mempercepat pembangunan smelter, cadangan batu bara yang melimpah menjadi andalan meskipun bertolak belakang dengan komitmen pengurangan emisi karbon.

Anjloknya produksi di Timur Tengah membuka peluang besar bagi Asia Tenggara untuk mengambil alih porsi pasokan aluminium dunia. Fastmarkets mencatat Timur Tengah umumnya menyuplai sekitar 9 persen aluminium global, namun produksinya diproyeksikan merosot hingga 44 persen tahun ini dibanding 2025.

Krisis energi memaksa Emirates Global Aluminium membatalkan sejumlah kesepakatan, sementara Qatar Aluminium Ltd. memilih memangkas volume produksinya. Di sisi lain, serangan Iran turut merusak fasilitas operasional milik Aluminium Bahrain.

Sebelum konflik pecah, aluminium diperdagangkan pada rentang US$3.150–3.250 (sekitar Rp55,9–57,7 juta) per metrik ton. Harganya kemudian melambung hingga US$3.780 (sekitar Rp67,1 juta) pada Juni dan kini tertahan di kisaran US$3.400 (sekitar Rp60,3 juta).

Andy Farida dari Fastmarkets menyebutkan bahwa ketidakpastian pasokan memicu para konsumen untuk beralih mencari alternatif lain.

"Ketika pasokan begitu tidak pasti, pengguna akhir mencari alternatif," kata Farida sebagaimana dilansir dari berita sumber. "Perang tersebut benar-benar mempercepat transformasi ini dan menempatkan Indonesia di peta," lanjut Farida sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pemerintah Indonesia merencanakan lonjakan kapasitas produksi secara masif dalam beberapa tahun ke depan. Berdasarkan data Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), target produksi alumina nasional melonjak empat kali lipat menjadi 32,5 juta metrik ton di akhir dekade ini, sementara produksi aluminium ditargetkan naik dari 1 juta metrik ton pada 2025 menjadi 14,5 juta metrik ton pada 2030.

Langkah ekspansi tersebut membutuhkan pasokan energi dalam jumlah yang sangat masif. Tahapan produksi aluminium sendiri dimulai dari penambangan bijih bauksit, pemurnian menjadi alumina, hingga peleburan akhir menjadi aluminium.

CREA mencatat terdapat 32 proyek pembangkit listrik batu bara off-grid atau "captive coal" yang sedang dipertimbangkan untuk menyuplai listrik smelter.

Syahdiva Moezbar dari CREA mengungkapkan bahwa data publik mengenai emisi dari pembangkit listrik khusus tersebut masih amat terbatas.

"Ledakan captive coal di seluruh Indonesia pada dasarnya tidak dapat terlacak. Itulah yang membuatnya sangat mengkhawatirkan," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Strategi ini dinilai bertolak belakang dengan janji Indonesia untuk menekan konsumsi batu bara sebagai sumber emisi pemanasan global.

World Economic Forum mencatat industri aluminium menyumbang sekitar 2 persen emisi gas rumah kaca global saban tahun, atau setara 1,1 miliar ton karbon dioksida ekuivalen.

Cina menjadi mitra utama Indonesia dalam ekspansi ini dengan menguasai sekitar tiga perempat dari total proyek aluminium yang direncanakan. Investment CREA menunjukkan nilai investasi Cina di sektor aluminium Indonesia saat ini mencapai 5,5 miliar hingga 6 miliar dolar AS dan diproyeksikan menembus 30 miliar dolar AS pada 2030.

Putra Adhiguna dari Energy Shift Institute menjelaskan bahwa masuknya perusahaan Cina berkaitan erat dengan pembatasan produksi aluminium domestik di negaranya sejak 2017.

Pemerintah mengelompokkan nikel dan aluminium sebagai "mineral transisi" karena peran vitalnya dalam teknologi bersih seperti baterai kendaraan listrik dan panel surya.

Kendati demikian, penggunaan batu bara dalam proses produksi logam transisi ini memicu kekhawatiran serius terkait dampak lingkungannya.

Binbin Mariana dari Market Forces menilai belum ada kejelasan mengenai peruntukan akhir dari produk logam asal Indonesia tersebut.

"Ini adalah celah yang sangat besar, seekor gajah bisa melewati celah itu," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber. "Anda mengatakan ini produk hijau, tetapi produk itu ditenagai batu bara… Itu jelas greenwashing," lanjutnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meskipun smelter dapat memanfaatkan energi bersih seperti tenaga air, Putra Adhiguna menilai opsi tersebut membutuhkan biaya lebih tinggi serta waktu yang lebih lama.

"Faktor kecepatan benar-benar yang menyebabkan kekacauan," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber. "Ini benar-benar bertentangan dengan semangat dan komitmen terhadap gerakan iklim," tambah Adhiguna sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Muhammad Al Amin dari WALHI memperingatkan bahwa penambahan pembangkit captive coal berpotensi memperparah kabut asap beracun di kota-kota Asia Tenggara.

"Jika perusahaan ingin memperluas captive coal untuk aluminium, menurut saya ini kabar yang sangat buruk dan perkembangan yang sangat buruk," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber. "Kami sudah melihatnya, kami sudah merasakannya, bagaimana masyarakat menderita akibat dampak captive coal," tegas Amin sebagaimana dilansir dari berita sumber.

CREA memprediksi cadangan bauksit Indonesia bisa habis dalam waktu kurang dari 12 tahun jika seluruh proyek aluminium beroperasi penuh pada 2030.

Otoritas energi nasional Cina melaporkan bahwa kapasitas terpasang tenaga surya di negara tersebut kini telah melampaui pembangkit listrik tenaga batu bara.

Hingga akhir Juli, kapasitas sistem fotovoltaik Cina menyentuh 1.286 gigawatt, unggul tipis dari pembangkit batu bara yang mencatatkan 1.285 gigawatt, dengan porsi tenaga surya mencapai 31,5 persen dari total kapasitas nasional.

Meski gencar memperluas pembangkit surya di wilayah barat, Cina tetap menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar akibat tingginya produksi batu bara.

Laju ekspansi tenaga surya di Cina mulai melambat dengan penurunan penambahan kapasitas sebesar 62 persen pada periode Januari–Juli dibanding tahun sebelumnya.

Penurunan ini terjadi seiring berlakunya standar baru sejak musim panas lalu yang menghapus jaminan harga proyek surya dan menyerahkannya pada mekanisme pasar.

Reporter: Akbar