Konflik AS dan Iran Memanas, Harga Minyak Mentah Dunia Kembali Menguat

Ilustrasi Minyak Mentah (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 03 September 2026 | 22:59:39 WIB

NEW YORK – Harga minyak dunia naik sekitar 1 persen pada akhir perdagangan Rabu (2/9/2026) waktu setempat atau Kamis (3/9/2026) pagi WIB.

Kenaikan ini terjadi di tengah memanasnya perselisihan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu kecemasan atas gangguan pasokan minyak global.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent menguat 98 sen AS atau 1 persen menjadi 95,63 dollar AS per barrel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 79 sen AS atau 0,9 persen menjadi 91,01 dollar AS per barrel.

Pergerakan harga minyak mentah mengalami fluktuasi yang cukup tinggi selama sesi perdagangan berlangsung.

Harga Brent dan WTI sempat melonjak hingga 2 dollar AS per barrel, namun juga sempat merosot sekitar 1 dollar AS.

Pencapaian level tertinggi dari kedua harga acuan tersebut sepanjang perdagangan menjadi yang tertinggi sejak 24 Juli 2026.

Ketegangan militer antara AS dan Iran kini telah memasuki bulan ketujuh.

Serangan paling baru ini menjadi bentrokan berskala besar pertama antara Washington dan Teheran sejak Juli 2026.

Angkatan militer AS menyerang area pantai selatan Iran, sedangkan pihak Iran melancarkan balasan ke pangkalan militer AS di beberapa lokasi.

"Serangan terbaru menandai eskalasi signifikan setelah sekitar satu bulan relatif tenang, dengan AS menargetkan radar Iran dan kemampuan peletakan ranjau, sementara Iran membalas dengan menyerang posisi-posisi AS di seluruh kawasan," kata Direktur perusahaan pialang Liquidity Energy, Mark Schaefer, dalam catatannya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, fokus utama pasar minyak saat ini tertuju pada potensi konflik yang dapat kembali mengganggu aliran fisik minyak di wilayah Timur Tengah. "Kekhawatiran utama pasar minyak adalah apakah pertempuran yang kembali terjadi akan menyebabkan penurunan lebih lanjut dalam arus fisik minyak melalui kawasan tersebut," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bentrokan antara AS dan Iran berawal dari serangan bersama AS dan Israel ke sejumlah target di Iran pada akhir Februari 2026.

Sejak kejadian tersebut, aktivitas pelayaran di kawasan Selat Hormuz mengalami gangguan yang berlanjut.

Sebelum konflik pecah, jalur perairan yang strategis ini dilintasi sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Sejumlah negara berupaya menahan lonjakan harga minyak dengan mencari pasokan alternatif serta memanfaatkan cadangan yang ada.

Meski demikian, jumlah cadangan minyak tersebut dilaporkan terus mengalami penurunan.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa serangan terbaru dari AS akan semakin memperketat lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Berdasarkan data awal perusahaan pelacak kapal Kpler, hanya ada empat kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu.

Angka tersebut menurun drastis dari rata-rata harian 10 hari terakhir yang biasanya mencapai sekitar 13 kapal.

Pihak Garda Revolusi Iran turut menginformasikan bahwa dua kapal tanker minyak mengalami kerusakan akibat terkena ranjau laut saat mencoba melintas.

Pemerintah Iran juga memperpanjang daftar kapal yang dinilai tidak mematuhi regulasi yang berlaku.

Kapal-kapal yang melanggar berisiko dikenakan denda, disita, atau ditahan apabila memaksakan melintasi Selat Hormuz.

Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright menyampaikan pada Selasa bahwa sebanyak 17 juta barrel minyak berhasil melintasi Selat Hormuz pada Senin.

Ia menilai volume minyak mentah tersebut merupakan yang terbesar melintasi jalur itu sejak konflik Iran dimulai.

Sementara itu, Irak tercatat meningkatkan ekspor minyaknya sepanjang Agustus dan pengiriman diperkirakan akan kembali melonjak pada September.

Data pelayaran dan sumber industri mencatat bahwa margin keuntungan yang tinggi serta izin Iran bagi tanker Irak menjadi pendorong meningkatnya pembelian.

"Meski peningkatan konflik akan memperlambat transit melalui Selat Hormuz dalam jangka pendek, pasar telah menyerap fakta bahwa pasokan minyak alternatif masih dapat mencapai pasar pada akhirnya," kata Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, Dennis Kissler sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak beserta sekutunya (OPEC+) diproyeksikan bakal mempertahankan kebijakan produksi minyak mereka untuk Oktober 2026.

Berdasarkan informasi tiga sumber kepada Reuters, keputusan tersebut kemungkinan besar diambil dalam pertemuan OPEC+ pada Minggu mendatang.

Aliansi produsen minyak ini pada bulan ini telah menuntaskan pembukaan salah satu tahap pemangkasan produksi dan mulai berfokus membahas kuota produksi tahun 2027.

Informasi dari wilayah lain mencatat bahwa Rusia kembali meluncurkan serangan skala besar menggunakan rudal dan drone ke fasilitas energi di Odesa, Ukraina selatan.

Ukrenergo selaku operator sistem transmisi listrik Ukraina mengonfirmasi bahwa serangan mendadak itu terjadi pada Rabu dini hari.

Adapun di AS, stok persediaan minyak mentah dilaporkan menyusut hingga 4,5 juta barrel pada pekan lalu.

Penurunan persediaan tersebut tercatat jauh lebih dalam dibandingkan perkiraan awal para analis dalam survei Reuters yang memproyeksikan penurunan sebesar 1,1 juta barrel.

Reporter: Akbar