JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) memperingatkan bahwa harga beras di dalam negeri berpotensi menyentuh angka Rp 20.000/kilogram apabila Indonesia terus melakukan impor beras. Sebelum mencapai swasembada, Indonesia tercatat mengimpor beras hingga mendekati 4,52 juta ton pada tahun 2024.
Ia kemudian mengisahkan pengalamannya saat pertama kali menjabat sebagai anggota DPR pada tahun 2004 silam. Pada masa itu, tingkat konsumsi gandum nasional baru berada pada kisaran 3 hingga 4 juta ton, namun kini angka tersebut melonjak tajam hingga 13 juta ton meskipun Indonesia tidak mempunyai kemampuan menanam gandum sendiri.
"Kalau kita terus tidak mau tahu juga, nanti harga beras kita bisa sampai Rp 16.000, Rp 20.000. Sementara harga harga-harga gandum akan murah," ujar Zulhas dalam acara 'Peluncuran Buku Pangan Indonesia' di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut Zulhas, lonjakan harga tersebut berpotensi menggeser pola konsumsi masyarakat luas. Masyarakat diperkirakan bakal mulai beralih dari nasi menuju roti karena harganya jauh lebih terjangkau dibanding beras lokal yang terus melambung.
"Orang akan pindah makannya. Kenapa gandum naik 13 juta? Karena beras kita mahal, gandumnya murah, pindah. Dia enggak makan nasi goreng, makan roti, karena lebih murah, gitu. Nanti terus akan begitu. Kalau seperti itu, kita akan sangat tergantung, ya pasti enggak merdeka, enggak bisa begini," beber ia sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Maka dari itu, ia menegaskan bahwa kemandirian pangan merupakan hal mutlak yang bakal menentukan arah masa depan bangsa, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto.
"Oleh karena itu, kata Pak Prabowo, tidak mungkin negara itu jadi apa-apa tanpa makannya itu merdeka atau swasembada. Jadi ini yang akan menentukan masa depan kita. Pelan tapi pasti, gitu ya," jelas ia sebagaimana dilansir dari berita sumber.