Bulog Operasi Pasar dengan 110 Ribu Ton Beras Tanggulangi Kenaikan

Ilustrasi Bulog (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Sabtu, 05 September 2026 | 19:28:36 WIB

JAKARTA – Perum Bulog menyiapkan pasokan beras sebanyak kurang lebih 110.000 ton untuk didistribusikan ke jaringan ritel modern serta pasar di seluruh daerah dalam waktu satu bulan. Upaya tersebut direalisasikan untuk menjamin ketersediaan bahan pangan sekaligus mengantisipasi lonjakan harga kebutuhan pokok.

Ahmad Rizal Ramdhani selaku Direktur Utama Perum Bulog menjelaskan bahwa dari total alokasi pasokan tersebut, sebanyak 75.000 ton merupakan beras jenis premium dan 35.000 ton sisanya adalah beras medium. Proses distribusi dilakukan melalui ritel modern dan pasar-pasar yang terdaftar pada Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).

“Disepakati teman-teman ritel modern menyerap 110.000 ton. Nah, dari 110.000 ton tersebut 75.000 ton untuk beras premium dan 35.000 ton untuk beras medium,” kata Rizal usai melakukan inspeksi mendadak atau sidak pasar sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Beberapa perusahaan ritel modern menerima porsi pasokan dalam volume cukup besar. PT Hero Retail Nusantara memperoleh alokasi sekitar 33.000 ton per bulan, PT Sumber Alfaria Trijaya menerima kurang lebih 25.000 ton, serta PT Indomarco Prismatama mendapatkan sekitar 16.000 ton.

Rizal menyebutkan bahwasanya penyaluran pasokan pangan ini ditujukan agar masyarakat dapat terus memperoleh beras bermutu dengan harga yang tidak melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Tujuannya supaya masyarakat tetap mendapatkan beras yang berkualitas dengan harga yang sesuai dengan HET,” ujar dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bulog Sidak Pasar Serentak

Pendistribusian pasokan beras diselenggarakan bersamaan dengan aktivitas pemantauan harga bahan pokok yang digelar serentak di bermacam wilayah. Rizal memimpin jalannya pemantauan jarak jauh via Zoom bertempat di Pasar Jatinegara dan Pasar Rawamangun, Jakarta.

Pengawasan tersebut melibatkan jajaran internal Bulog di daerah bersama Satgas Pangan dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang bertugas di pasar-pasar setempat.

“Tujuannya tidak lain dan bukan untuk memastikan para Pimwil (Pimpinan Wilayah Bulog) dan Pinsat (Pimpinan Pusat Bulog), serta Satgas Pangan dan teman-teman Bapanas di masing-masing daerah, untuk langsung mengecek harga sembako di pasar SP2KP,” ujar Rizal saat memimpin pemantauan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam agenda tersebut, Rizal memeriksa kehadiran jajaran Bulog di lapangan satu demi satu. Pengawasan tersebut juga memuat permintaan laporan langsung terkait dinamika harga komoditas pokok dari berbagai wilayah, contohnya Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua.

Rizal menegaskan bahwa langkah turun langsung ke pasar memang disengaja untuk memastikan personel Bulog, Satgas Pangan, dan Bapanas hadir secara nyata di lapangan. Skema ini membuat pergerakan harga kebutuhan pokok dapat terpantau secara riil.

Sidak ini berjalan serentak pada lokasi pasar yang masuk daftar jaringan SP2KP di seluruh wilayah Indonesia. Untuk wilayah Jakarta, pemantauan diawali dengan peninjauan langsung ke Pasar Jatinegara sebelum bergerak menuju Pasar Rawamangun.

Harga Daging dan Cabai Naik

Hasil pemantauan di kawasan Jakarta menunjukkan kenaikan harga pada sejumlah komoditas pangan. Kendati demikian, Rizal menganggap peningkatan harga komoditas tersebut masih dalam taraf wajar.

Komoditas pangan yang mencatatkan kenaikan harga di antaranya yaitu cabai serta daging. Di samping itu, beras premium juga terdeteksi mengalami sedikit kenaikan harga.

“Dari hasil temuan memang ada beberapa yang mengalami kenaikan tapi tidak terlalu signifikan, seperti daging, terus kemudian cabai yang biasa naik turun, dan sementara beras premium ada sedikit naik,” ungkap dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Saat meninjau Pasar Rawamangun, Rizal mengamati harga beras premium varietas Pandan Wangi dijual pada kisaran Rp15.000-Rp16.000 per kilogram. Nominal harga tersebut berada sedikit di atas patokan HET beras premium Zona I sebesar Rp14.900 per kilogram.

“Harganya tadi diperkirakan, dilihat harganya adalah sekitar Rp15.000 sampai dengan Rp16.000. Dan ini tidak terlalu jauh dengan range harga HET yaitu Rp14.900,” ungkap dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, kala menyambangi gerai Bulog di Pasar Jatinegara, Rizal berinteraksi dan menanyakan harga barang pokok kepada seorang konsumen bernama Asep.

Asep mengutarakan bahwa ia memboyong Minyakita seharga Rp15.500 dan gula seharga Rp17.700. Angka tersebut merupakan harga resmi transaksi di outlet Bulog yang dikunjungi, bukan gambaran nilai rata-rata harga di seluruh pasar.

HET Beras Premium dan Medium

Regulasi pemerintah menetapkan batasan HET beras berdasarkan pembagian zona wilayah. Wilayah Zona I yang mencakup Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi memiliki HET beras premium sebesar Rp14.900 per kilogram.

HET beras kategori medium pada wilayah tersebut ditetapkan sebesar Rp13.500 per kilogram. Di sisi lain, HET beras untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) berada di level Rp12.500 per kilogram.

Data pemantauan Bapanas per 31 Agustus 2026 mencatat rata-rata harga nasional beras premium berada di angka Rp16.084 per kilogram. Sementara itu, rata-rata harga beras medium nasional bertengger di angka Rp13.626 per kilogram.

Adanya selisih antara harga rata-rata di pasar nasional dan HET menjadi fokus perhatian pemerintah demi menjaga stabilitas harga bahan pangan.

Stok Beras Bulog Capai 5,4 Juta Ton

Mengenai aspek ketersediaan stok, Bulog berhasil menyerap sekitar 3,7 juta ton beras hingga 2 September 2026. Capaian ini sudah mendekati target penyerapan tahunan lembaga sebesar 4 juta ton.

Pada kurun waktu yang sama, cadangan beras yang tersimpan pada pergudangan Bulog maupun gudang mitra mencapai angka sekitar 5,4 juta ton.

Ketersediaan cadangan yang memadai akan dimanfaatkan Bulog untuk melakukan intervensi apabila harga pasar melonjak. Langkah penanganan dirancang melalui operasi pasar serta memperluas alokasi beras premium dan medium.

“Tujuannya tidak lain dan bukan untuk mencegah terjadinya kenaikan-kenaikan inflasi harga-harga sembako di seluruh tanah air. Nah ini kami akan lakukan tindakan pencegahan, yaitu dengan melakukan operasi pasar, sekaligus menyalurkan beras-beras premium dan beras medium baik ke pasar SP2KP maupun ke ritel-ritel modern,” ucap Rizal sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Rizal menambahkan bahwa agenda operasi pasar bakal bergulir secara berkelanjutan selama fluktuasi harga masih terjadi. Strategi ini diharapkan mampu mempertahankan daya beli warga sekaligus menjamin ketersediaan beras dengan harga yang terjangkau.

“Operasi pasar kami lakukan sepanjang itu masih naik, kami lakukan operasi pasar. Sampai dengan betul-betul turun beras-beras itu,” tutur dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Akbar