IHSG Menguat 1,82 persen, Asing Net Buy Rp 2,3 Triliun didorong Sentimen Treasury AS
JAKARTA – Investor asing mencatat posisi net buy sekitar Rp 1,6 triliun di pasar reguler sepekan terakhir, dan sebagian besar dana asing itu mengalir ke saham bank berkapitalisasi jumbo atau big banks.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,82% ke level 6.636 sampai akhir pekan kemarin, sementara investor asing mencatat net buy Rp 2,3 triliun di seluruh pasar selama satu pekan terakhir.
"Rp 1,6 triliun di pasar reguler dengan konsentrasi pembelian pada big bank: BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI," kata Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan lewat keterangan resmi, Senin (7/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
David menerangkan pergerakan pasar sepekan terakhir dipengaruhi sentimen global yang relatif signifikan. Salah satu katalisnya berkaitan dengan manuver U.S. Department of the Treasury yang memperbesar ukuran buyback surat utang tenor panjang dari maksimal US$ 2 miliar menjadi minimal US$ 4 miliar per operasi.
Manuver itu memperlihatkan kepentingan pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menjaga likuiditas dan fungsi pasar treasury di tengah tekanan yield jangka panjang. Kebijakan itu akan berlaku mulai 9 September 2026.
BRI Danareksa juga menyoroti aliran dana asing yang relatif solid kepada saham big banks sepekan terakhir. "Di pasar reguler, net buy asing mencapai Rp 1,6 triliun dengan BBRI, BMRI, BBCA, dan BBNI menjadi sasaran utama," dikutip dari catatan BRI Danareksa, Senin (7/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dari sisi fundamental, big banks tetap solid dengan BBRI mencatat laba Rp 31,2 triliun (+17,5%), BMRI Rp 30,4 triliun (+24,2%), BBCA Rp 29,5 triliun (+1,75%), dan BBNI Rp 10,8 triliun (+6,3%) sepanjang semester I-2026.
Kendati demikian, kredit perbankan tumbuh 13,6% secara tahunan hingga Juli 2026, lebih cepat dibandingkan dengan DPK yang hanya tumbuh 11,21%. Dengan demikian, tekanan likuiditas makin intens sampai paruh pertama tahun ini.
"Inflow asing berpotensi berlanjut jika investor melihat fundamental dan kualitas aset tetap terjaga, namun tren DPK versus kredit menjadi faktor kunci yang perlu dipantau terhadap NIM dan likuiditas bank," dikutip dari catatan BRI Danareksa, sebagaimana dilansir dari berita sumber.