ExxonMobil Ambil Alih Operator Papua LNG, TotalEnergies Pangkas Saham

Ilustrasi ExxonMobil resmi mengambil alih posisi operator proyek Papua LNG dari TotalEnergies. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 08 September 2026 | 22:48:49 WIB

JAKARTA - TotalEnergies memangkas kepemilikannya dalam proyek Papua LNG dan menyerahkan posisi operator kepada ExxonMobil sebagai bagian dari penataan kepemilikan proyek tersebut.

TotalEnergies akan menjual 9,1% kepemilikannya kepada para mitra berdasarkan proporsi saham masing-masing. Setelah transaksi rampung, perusahaan energi asal Prancis tersebut akan tetap memegang 20% saham Papua LNG.

TotalEnergies tidak mengungkapkan nilai transaksi tersebut. Sementara itu, Santos mengumumkan pembelian tambahan 3,3% saham Papua LNG senilai US$189 juta sehingga kepemilikannya meningkat menjadi 21%.

Santos menyebut transaksi tersebut masih bergantung pada tercapainya keputusan investasi final (FID) Papua LNG yang ditargetkan pada kuartal IV 2026. TotalEnergies mengatakan sejumlah hambatan kontraktual dan komersial untuk mencapai keputusan tersebut telah diselesaikan.

“Ini semua adalah bagian dari antrean FID pada akhir tahun, yang akan membantu memperpanjang umur PNG LNG yang akan mulai menurun sekitar tahun 2028,” kata Saul Kavonic, Analis MST Marquee, merujuk pada proyek LNG di dekat Papua LNG yang saat ini mengoperasikan ExxonMobil, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

ExxonMobil juga akan mengambil alih posisi operator Papua LNG. Perusahaan menilai pengelolaan Papua LNG dan PNG LNG di bawah satu operator dapat memperkuat koordinasi sekaligus meningkatkan efisiensi pelaksanaan proyek.

"Menempatkan Papua LNG dan PNG LNG di bawah kendali operasi ExxonMobil diharapkan dapat memperkuat penyelarasan antarproyek, meningkatkan efisiensi pelaksanaan, serta mendukung pengembangan sumber daya LNG kelas dunia milik Papua Nugini," kata Juru Bicara ExxonMobil, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

TotalEnergies mengatakan proses tender pekerjaan engineering, procurement and construction (EPC) untuk Papua LNG telah selesai. Kontrak proyek tersebut kini menunggu persetujuan dari para mitra.

Perseroan juga telah memangkas biaya proyek hampir US$4 miliar sejak 2024 melalui tender ulang kontrak dan optimalisasi desain. Upaya tersebut membuat estimasi belanja modal Papua LNG turun menjadi sekitar US$14 miliar.

Selain itu, para mitra telah menyelesaikan perubahan perjanjian gas dengan pemerintah Papua Nugini.

Para mitra juga membentuk usaha patungan pemasaran LNG bersama Kumul Petroleum untuk menjual 2,4 juta ton per tahun (Mtpa) dari total produksi Papua LNG yang mencapai 5,6 Mtpa.

Papua LNG menjadi bagian dari strategi TotalEnergies untuk meningkatkan pasokan LNG dengan biaya yang lebih rendah. Proyek yang dikembangkan dari lapangan Elk dan Antelope di Provinsi Gulf, Papua Nugini, tersebut ditargetkan menghasilkan LNG sebesar 5,6 Mtpa, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar Asia.

Proyek Papua LNG telah dikembangkan selama lebih dari satu dekade. Namun, pelaksanaannya menghadapi berbagai penundaan akibat perselisihan fiskal, pandemi, serta proses negosiasi di antara para mitra.

Meskipun mengurangi kepemilikan, TotalEnergies tetap mempertahankan hak atas produksi LNG sebesar 1,5 Mtpa untuk portofolionya.

Penjualan saham tersebut juga akan memberikan ruang bagi TotalEnergies untuk mengalokasikan modal ke proyek-proyek lainnya.

Marc Howson, Head of Asia Pacific Welligence Energy Analytics, mengatakan TotalEnergies memiliki salah satu komitmen investasi LNG terbesar di industri untuk proyek-proyek yang saat ini berada dalam tahap konstruksi.

Komitmen tersebut mencakup kepemilikan TotalEnergies dalam sejumlah proyek LNG di Timur Tengah, Teluk Meksiko AS, serta Afrika Barat dan Timur.

Reporter: Ibtihal