IHSG Turun 1,49 Persen, Saham BBNI hingga BBCA Tertekan
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot pada sesi I perdagangan Jumat (11/9/2026). Hingga pukul 11.43 WIB, indeks turun 1,49 persen ke level 6.490.
IHSG dibuka sekaligus mencatat level tertinggi di 6.552,792. Namun, tekanan jual membuat indeks terus bergerak turun hingga menyentuh posisi terendah 6.462,960.
Tekanan tersebut tercermin dari mayoritas saham yang mengalami pelemahan. Sebanyak 521 saham turun, 133 saham menguat dan 131 saham lainnya stagnan.
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik masih berada dalam tekanan akibat sentimen global yang belum sepenuhnya mereda. Dalam kondisi tersebut, investor dinilai perlu selektif dengan memperhatikan fundamental emiten serta perkembangan likuiditas domestik.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, tekanan terlihat pada sejumlah saham perbankan big caps. Menjelang berakhirnya perdagangan sesi pertama, saham perbankan masih terpantau berada di bawah tekanan.
Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun 70 poin atau 1,84 persen ke level Rp 3.730 per saham. BBNI dibuka di Rp 3.800 dan sempat menyentuh posisi tertinggi yang sama, sebelum bergerak turun hingga level terendah Rp 3.720.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turut melemah 50 poin atau 1,14 persen ke level Rp 4.320 per saham. BMRI dibuka pada level Rp 4.330 dan sempat mencapai posisi tertinggi Rp 4.350. Sementara itu, level terendahnya berada di Rp 4.300.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 50 poin atau 1,51 persen ke level Rp 3.270 per saham. BBRI dibuka dan sempat berada di posisi tertinggi Rp 3.320, sebelum terkoreksi hingga level terendah Rp 3.250.
Tekanan serupa juga dialami saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Saham BBCA turun 125 poin atau 1,95 persen ke level Rp 6.300 per saham. BBCA dibuka di level Rp 6.400 dan mencatat posisi tertinggi yang sama, sedangkan level terendahnya berada di Rp 6.250.
Rully mengatakan sentimen global masih menjadi tantangan bagi pasar keuangan domestik karena sejumlah indikator memperlihatkan tekanan yang cukup besar. Salah satunya terlihat dari imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun atau US10YT yang mendekati 5 persen.
Di sisi lain, European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga hingga 2,5 persen. Tingkat suku bunga yang lebih tinggi di negara-negara maju dapat memengaruhi arus modal global karena investor memiliki semakin banyak alternatif untuk menempatkan dana pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi.
Tekanan lainnya berasal dari harga minyak dunia yang masih bertahan pada level tinggi. Situasi ini dapat meningkatkan biaya energi dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi serta fiskal, khususnya bagi negara yang masih membutuhkan impor energi.
“Sentimen global masih menantang seiring US10YT mendekati 5 persen, kenaikan drastis ECB menjadi 2,5 persen, serta harga minyak yang bertahan tinggi. Namun, transmisi ke pasar domestik sejauh ini relatif terbatas,” ujar Rully, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurutnya, rupiah saat ini berada di sekitar Rp17.547 per dollar AS, sedangkan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat sebesar 7,11 persen.
Tidak adanya lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sepanjang September turut mendorong realokasi likuiditas perbankan menuju SBN.
Penguatan rupiah memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mengurangi stance defensif dan melonggarkan kondisi likuiditas dalam jangka pendek. Kendati demikian, tekanan harga minyak dan global yields masih membatasi ruang pengelolaan melalui suku bunga acuan BI-Rate.
Di tengah kondisi pasar tersebut, perkembangan konsumsi domestik juga menjadi salah satu perhatian.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri mengatakan, keyakinan konsumen mulai membaik, meski pemulihannya belum berlangsung secara merata.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 meningkat menjadi 118,5 dari 116,8 pada Juli 2026. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini juga naik menjadi 109,4, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen meningkat menjadi 127,6.
Namun, masih terdapat selisih 18,2 poin antara persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi ke depan. Kondisi tersebut mengindikasikan konsumen masih memandang keadaan ekonomi saat ini secara lebih hati-hati.
“Perbaikan belum terjadi secara menyeluruh. Kelompok pengeluaran Rp4,1–5 juta justru menjadi satu-satunya kelompok yang mencatat penurunan keyakinan, sementara persepsi pasar tenaga kerja melemah pada responden berpendidikan universitas dan pascasarjana,” jelas Novani, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia turut menyoroti perubahan pola pengelolaan keuangan rumah tangga. Porsi tabungan mengalami penurunan paling besar pada rumah tangga dengan pengeluaran Rp 1-4 juta, sedangkan konsumsi meningkat di hampir seluruh kelompok.
Kondisi tersebut berpotensi menopang permintaan dalam jangka pendek. Namun, berkurangnya tabungan juga menunjukkan buffer keuangan rumah tangga pada segmen tertentu semakin menipis.
Dengan inflasi sebesar 3,19 persen secara tahunan, perkembangan tersebut perlu menjadi perhatian karena daya beli rumah tangga akan semakin bergantung pada kemampuan pendapatan dalam mengimbangi kenaikan harga.
Meski begitu, meningkatnya keyakinan konsumen tetap menjadi sinyal positif bagi prospek konsumsi. Menurut Novani, pemulihan konsumsi yang berkelanjutan masih membutuhkan penguatan pendapatan riil, prospek ketenagakerjaan, serta stabilitas inflasi.
“Karena itu, kami mempertahankan strategi portofolio yang selektif dengan preferensi pada saham berfundamental kuat dan arus kas solid. RDPU tetap menjadi pilihan likuiditas anchor, sementara RDPT tetap favorable untuk akumulasi bertahap seiring membaiknya peluang di pasar obligasi,” pungkas Novani, sebagaimana dilansir dari berita sumber.