IPAC Berencana Go Private dan Delisting dari Bursa Efek Indonesia
JAKARTA – PT Era Graharealty Tbk. (IPAC) berencana menjadi perusahaan tertutup atau go private. Sejalan dengan rencana tersebut, emiten agen real estate itu akan melakukan delisting atau penghapusan pencatatan saham dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan dari pemegang saham independen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 20 Oktober 2026.
Dalam keterbukaan informasi, Direksi Era Graharealty menyampaikan bahwa rencana go private dan delisting dilakukan seiring dengan perubahan strategi bisnis perseroan.
"Perseroan tidak lagi memerlukan pendanaan dari pasar modal dan tidak memiliki rencana untuk melakukan penggalangan dana melalui pasar modal di masa yang akan datang," tulis Direksi IPAC dalam keterbukaan informasi yang dikutip Jumat (11/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain itu, langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya operasional sehingga perseroan dapat memperkuat daya saing. Status sebagai perusahaan tertutup juga dinilai dapat memberikan fleksibilitas lebih besar dalam pengembangan dan restrukturisasi bisnis.
Direksi IPAC menyebut keputusan tersebut diambil setelah melakukan evaluasi terhadap strategi jangka panjang perusahaan, termasuk upaya mengelola aset dan kegiatan operasional secara lebih efisien serta melakukan restrukturisasi kepemilikan saham.
Sebagai bagian dari proses delisting, perseroan telah mengajukan surat permohonan delisting kepada BEI pada 7 September 2026. Surat tersebut juga ditembuskan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham, pemegang saham pengendali Era Graharealty, APAC Investment 2 Pte. Ltd., akan melaksanakan Voluntary Tender Offer (VTO) atau penawaran tender sukarela atas saham yang dimiliki pemegang saham publik.
Jumlah saham publik yang menjadi objek VTO maksimal mencapai 89,31 juta saham atau sekitar 9,40% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor perseroan.
Harga penawaran ditetapkan sebesar Rp250 per saham. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga tertinggi harian saham perseroan selama 90 hari sebelum pengumuman RUPSLB yang tercatat sebesar Rp173 per saham.
Dengan jumlah saham publik maksimal 89,31 juta saham dan harga penawaran Rp250 per saham, nilai maksimal dana yang harus disiapkan untuk VTO mencapai sekitar Rp22,33 miliar.
Pemegang saham publik yang tidak melepas sahamnya melalui VTO tetap berstatus sebagai pemegang saham perseroan. Namun, apabila rencana go private dan delisting mendapat persetujuan, saham tersebut tidak lagi tercatat maupun diperdagangkan di BEI.
Saat ini, APAC Investment 2 Pte. Ltd. menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 860,56 juta saham atau 90,60%. Sementara itu, masyarakat memiliki sekitar 89,31 juta saham atau 9,40%. Ultimate beneficial owner dari APAC Investment 2 Pte. Ltd. adalah Morgan Stanley.
Dari sisi kinerja, Era Graharealty membukukan pendapatan Rp58,50 miliar pada 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan pendapatan Rp44,70 miliar pada 2024 dan Rp28,79 miliar pada 2023.
Laba bersih perseroan pada 2025 mencapai Rp1,48 miliar, meningkat dari Rp461,9 juta pada 2024. Namun, capaian tersebut masih berada di bawah laba bersih 2023 yang sebesar Rp2,85 miliar.
RUPSLB yang akan membahas rencana tersebut dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 20 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB di TCC Batavia Tower One, Jakarta Pusat, serta secara elektronik melalui eASY.KSEI.
Apabila seluruh proses mendapatkan persetujuan dari regulator dan otoritas terkait, VTO diperkirakan dimulai pada 21 Desember 2026 dan berakhir pada 19 Januari 2027. Pembayaran hasil VTO dijadwalkan paling lambat pada 26 Januari 2027.
Selanjutnya, persetujuan Kementerian Hukum diperkirakan diperoleh pada 2 Februari 2027, kemudian pencabutan efektif pernyataan pendaftaran oleh OJK dijadwalkan pada 26 Februari 2027.JAKARTA – PT Era Graharealty Tbk. (IPAC) berencana menjadi perusahaan tertutup atau go private. Sejalan dengan rencana tersebut, emiten agen real estate itu akan melakukan delisting atau penghapusan pencatatan saham dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan dari pemegang saham independen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 20 Oktober 2026.
Dalam keterbukaan informasi, Direksi Era Graharealty menyampaikan bahwa rencana go private dan delisting dilakukan seiring dengan perubahan strategi bisnis perseroan.
"Perseroan tidak lagi memerlukan pendanaan dari pasar modal dan tidak memiliki rencana untuk melakukan penggalangan dana melalui pasar modal di masa yang akan datang," tulis Direksi IPAC dalam keterbukaan informasi yang dikutip Jumat (11/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain itu, langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya operasional sehingga perseroan dapat memperkuat daya saing. Status sebagai perusahaan tertutup juga dinilai dapat memberikan fleksibilitas lebih besar dalam pengembangan dan restrukturisasi bisnis.
Direksi IPAC menyebut keputusan tersebut diambil setelah melakukan evaluasi terhadap strategi jangka panjang perusahaan, termasuk upaya mengelola aset dan kegiatan operasional secara lebih efisien serta melakukan restrukturisasi kepemilikan saham.
Sebagai bagian dari proses delisting, perseroan telah mengajukan surat permohonan delisting kepada BEI pada 7 September 2026. Surat tersebut juga ditembuskan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham, pemegang saham pengendali Era Graharealty, APAC Investment 2 Pte. Ltd., akan melaksanakan Voluntary Tender Offer (VTO) atau penawaran tender sukarela atas saham yang dimiliki pemegang saham publik.
Jumlah saham publik yang menjadi objek VTO maksimal mencapai 89,31 juta saham atau sekitar 9,40% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor perseroan.
Harga penawaran ditetapkan sebesar Rp250 per saham. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga tertinggi harian saham perseroan selama 90 hari sebelum pengumuman RUPSLB yang tercatat sebesar Rp173 per saham.
Dengan jumlah saham publik maksimal 89,31 juta saham dan harga penawaran Rp250 per saham, nilai maksimal dana yang harus disiapkan untuk VTO mencapai sekitar Rp22,33 miliar.
Pemegang saham publik yang tidak melepas sahamnya melalui VTO tetap berstatus sebagai pemegang saham perseroan. Namun, apabila rencana go private dan delisting mendapat persetujuan, saham tersebut tidak lagi tercatat maupun diperdagangkan di BEI.
Saat ini, APAC Investment 2 Pte. Ltd. menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 860,56 juta saham atau 90,60%. Sementara itu, masyarakat memiliki sekitar 89,31 juta saham atau 9,40%. Ultimate beneficial owner dari APAC Investment 2 Pte. Ltd. adalah Morgan Stanley.
Dari sisi kinerja, Era Graharealty membukukan pendapatan Rp58,50 miliar pada 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan pendapatan Rp44,70 miliar pada 2024 dan Rp28,79 miliar pada 2023.
Laba bersih perseroan pada 2025 mencapai Rp1,48 miliar, meningkat dari Rp461,9 juta pada 2024. Namun, capaian tersebut masih berada di bawah laba bersih 2023 yang sebesar Rp2,85 miliar.
RUPSLB yang akan membahas rencana tersebut dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 20 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB di TCC Batavia Tower One, Jakarta Pusat, serta secara elektronik melalui eASY.KSEI.
Apabila seluruh proses mendapatkan persetujuan dari regulator dan otoritas terkait, VTO diperkirakan dimulai pada 21 Desember 2026 dan berakhir pada 19 Januari 2027. Pembayaran hasil VTO dijadwalkan paling lambat pada 26 Januari 2027.
Selanjutnya, persetujuan Kementerian Hukum diperkirakan diperoleh pada 2 Februari 2027, kemudian pencabutan efektif pernyataan pendaftaran oleh OJK dijadwalkan pada 26 Februari 2027.