Harga Minyak Naik, IHSG Anjlok 2,2 Persen ke 6.391

Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 2,2% ke level 6.391 pada perdagangan Senin (14/9/2026) pukul 14.30 WIB. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Senin, 14 September 2026 | 21:55:00 WIB

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 2,2% ke level 6.391 pada perdagangan Senin (14/9/2026) pukul 14.30 WIB.

Sejumlah analis menilai koreksi pasar tersebut dipicu kekhawatiran terhadap potensi tekanan fiskal di tengah kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir.

Co-Founder Alphagate Capital sekaligus Former Chief Indonesia Strategist J.P. Morgan Henry Wibowo mengatakan harga minyak yang mendekati US$100 per barel menjadi salah satu sentimen negatif bagi pasar Indonesia.

Sebagai negara net importir minyak, peningkatan harga minyak berpotensi memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan dan fiskal Indonesia.

"Indonesia merupakan negara net importer minyak, sehingga kenaikan harga minyak berpotensi memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan dan fiskal, terutama mengingat pemerintah masih memberikan subsidi energi domestik yang cukup besar," kata Henry kepada Bloomberg Technoz, Senin (14/9/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Henry, tekanan tersebut menjadi perhatian pasar karena pemerintah masih memberikan subsidi energi, termasuk BBM RON 90 atau Pertalite.

Kondisi tersebut membuat kenaikan harga minyak berpotensi menambah beban fiskal apabila harga energi global tetap berada di level tinggi.

Selain persoalan fiskal, koreksi IHSG juga dipengaruhi aksi profit taking setelah pasar saham Indonesia mencatat penguatan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Investor juga cenderung mengambil sikap wait and see menjelang pertemuan Federal Reserve pekan ini karena masih terdapat kekhawatiran mengenai arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Henry menilai koreksi IHSG saat ini masih bersifat sementara. IHSG telah menguat lebih dari 20% dalam tiga bulan sejak menyentuh titik terendah pada Juni 2026, sehingga secara teknikal telah masuk ke wilayah bull market.

"Setelah kenaikan yang cukup kuat tersebut, koreksi dan konsolidasi jangka pendek merupakan sesuatu yang wajar," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meski demikian, Henry tetap melihat prospek pasar saham Indonesia secara positif dalam jangka menengah hingga panjang.

Salah satu faktor pendukungnya adalah arus foreign direct investment (FDI) menuju sektor infrastruktur digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia yang dinilai masih kuat.

Pada saat yang sama, sejumlah grup konglomerasi domestik juga meningkatkan belanja modal untuk menangkap peluang pertumbuhan di sektor tersebut.

Indonesia dinilai memiliki posisi kompetitif sebagai tujuan investasi pusat data atau data center global.

"Indonesia memiliki posisi yang cukup unik dan kompetitif secara global sebagai tujuan investasi data center, didukung oleh harga lahan yang relatif menarik, ketersediaan pasokan listrik dan air yang stabil, serta kebijakan pemerintah yang semakin mendukung perkembangan industri digital dan data center," jelas Henry, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dengan kondisi tersebut, Henry memperkirakan IHSG berpotensi kembali ke level 7.000 pada akhir 2026 dan berpeluang mencatat rekor tertinggi baru atau all-time high pada 2027.

Ia juga menilai koreksi saham-saham terkait AI di pasar global belum mengubah prospek investasi infrastruktur AI di Indonesia. Sejumlah perusahaan AI global dan regulator memang mulai menyerukan perlambatan pengembangan teknologi AI dalam beberapa hari terakhir.

Namun, Indonesia masih dinilai berada pada tahap awal siklus investasi infrastruktur AI. Karena itu, belanja modal untuk pembangunan data center dan infrastruktur digital diperkirakan tetap tinggi dalam 2-3 tahun ke depan dengan dukungan permintaan yang masih kuat.

Henry melihat koreksi pasar pada pekan ini sebagai peluang untuk melakukan akumulasi, khususnya pada saham-saham yang memiliki eksposur terhadap pertumbuhan infrastruktur digital dan AI di Indonesia.

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan pasar global menghadapi sejumlah headwinds, mulai dari gejolak pasar obligasi, percepatan inflasi hingga ketidakpastian geopolitik.

Data inflasi konsumen Amerika Serikat atau US CPI Agustus yang meningkat 0,4% secara bulanan untuk headline dan 0,3% untuk core juga menjadi perhatian pasar.

Core CPI yang berada di atas konsensus meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed 25 basis poin menjadi 86,5% dari sebelumnya 69%.

Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih hawkish tersebut memicu aksi jual di pasar obligasi US Treasury. Dampaknya, imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun meningkat hingga 4,975%, sementara tenor 2 tahun mencapai 4,644%.

Di pasar komoditas, harga Brent turun 2,94% menjadi US$104,47 per barel setelah sebelumnya sempat mendekati US$110. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) turun 2,43% menjadi US$99,99 per barel.

Nafan menilai risiko gangguan pasokan minyak mentah masih perlu diperhatikan setelah East-West Pipeline Arab Saudi ditutup akibat serangan drone, kemudian muncul laporan ledakan di Yanbu yang merupakan salah satu pusat energi strategis di pesisir Laut Merah.

"Dari sisi domestik, indikator makro ekonomi domestik seperti IKK yang terjaga dan stabilitas pasokan energi domestik menjadi faktor cushion bagi IHSG," ujar Nafan, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Penguatan rupiah sebesar 0,21% ke level Rp17.641,5/US$ juga dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi pasar karena berpotensi menopang foreign inflow dan mengurangi sikap defensif investor domestik.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai perdagangan mencapai Rp8 triliun dari 17,32 miliar saham yang ditransaksikan, dengan frekuensi mencapai 1,19 juta kali. Sebanyak 144 saham masih menguat, sementara 517 saham melemah dan 122 saham stagnan.

Saham energi, barang baku, dan infrastruktur menjadi sektor utama yang menekan IHSG dengan pelemahan masing-masing mencapai 3,06%, 2,87%, dan 2,62%. Saham konsumen non primer juga turun 2,14%, disusul sektor transportasi yang melemah 1,97%.

Pelemahan IHSG merupakan dampak langsung dari tekanan pada sejumlah saham big caps yang memiliki bobot besar terhadap indeks, terutama saham BYAN.

Sejumlah saham LQ45 lainnya turut menjadi pemberat IHSG. Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) turun 5,74%, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 4,76%, sedangkan saham PT Indosat Tbk (ISAT) turun 4,12%.

Reporter: Ibtihal