Wall Street Turun, Saham Nvidia dan Chipmaker Tertekan
JAKARTA - Indeks utama Wall Street berakhir di zona merah pada Senin (14/9/2026). Penurunan tersebut dipicu oleh pelemahan saham Nvidia dan sejumlah produsen chip setelah pimpinan perusahaan kecerdasan buatan AS menyampaikan kekhawatiran mengenai aspek keselamatan serta mendorong perlambatan pengembangan AI.
Indeks S&P 500 turun 0,48% ke level 7.619,94. Nasdaq melemah 0,56% ke level 26.186,41 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,29% menjadi 52.421,17.
Sebanyak delapan dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 mencatat penurunan. Sektor teknologi informasi menjadi pemberat utama setelah terkoreksi 1,68%, disusul sektor industri yang turun 1,44%.
Aktivitas perdagangan saham di bursa AS mencapai 15,3 miliar saham. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata 14,8 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.
Sentimen investor turut tertekan setelah imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun acuan sempat menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2023 menjelang pertemuan Federal Reserve pekan ini. Bank sentral AS secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga.
Saham yang berkaitan dengan AI mengalami tekanan di berbagai pasar global setelah pemimpin Anthropic, OpenAI, dan xAI memperingatkan risiko dari perkembangan teknologi yang berlangsung cepat. Kekhawatiran tersebut menjadi ancaman yang semakin nyata bagi investasi bernilai miliaran dolar di sektor yang sebelumnya menjadi salah satu pendorong utama pasar hingga mencapai rekor tertinggi.
Saham Nvidia merosot 3,4%, sementara Micron Technology terkoreksi lebih dari 5%. Broadcom dan Advanced Micro Devices juga masing-masing turun lebih dari 4%.
Indeks saham PHLX anjlok 5,9%, sehingga mengurangi kenaikan sepanjang 2026 menjadi 57%.
Di sisi lain, saham ServiceNow, Adobe, dan Workday justru menguat dalam kisaran 4% hingga 7,4%. Saham-saham tersebut bersama sejumlah perusahaan perangkat lunak lainnya sebelumnya mengalami tekanan dalam beberapa sesi perdagangan akibat kekhawatiran persaingan dengan perusahaan AI dapat menekan margin keuntungan.
Harga minyak mentah Brent ditutup naik 1% menjadi US$ 105,68 per barel. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai pasokan energi setelah serangan terbaru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Timur Tengah.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dalam sebulan terakhir turut dipengaruhi oleh inflasi yang masih tinggi, besarnya pinjaman perusahaan dan pemerintah, serta kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal AS dalam jangka panjang.
Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun yang menembus 5% pada Senin menjadi level yang dinilai analis berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian AS. Kondisi tersebut juga dapat mengancam penguatan pasar saham dengan membuat saham AS menjadi relatif kurang menarik.
Menurut FedWatch CME, para pedagang memperkirakan probabilitas sebesar 90% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan kebijakan pada Rabu. Langkah tersebut diperkirakan dilakukan untuk mengatasi tekanan inflasi yang berkaitan dengan tingginya harga minyak.
"Kenaikan imbal hasil obligasi 10 tahun di atas 5% adalah hal yang besar dan sangat berarti, dan ini mungkin akan menekan The Fed untuk melakukan lebih dari sekadar satu kenaikan suku bunga," kata Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management, sebagaimana dilansir dari berita sumber.