Wall Street Melemah, Harga Minyak dan Yield Treasury Melonjak

Ilustrasi Indeks utama Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (15/9/2026). (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Rabu, 16 September 2026 | 00:07:42 WIB

JAKARTA - Indeks utama Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Tekanan datang dari kenaikan imbal hasil US Treasury, meningkatnya kekhawatiran terhadap utang, serta lonjakan harga minyak yang membuat investor menahan diri untuk masuk ke pasar.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 328,09 poin atau 0,63% ke level 52.093,11. S&P 500 melemah 34,25 poin atau 0,45% ke level 7.585,73, sedangkan Nasdaq Composite turun 204,84 poin atau 0,78% ke level 25.981,57.

Dari 11 sektor utama S&P 500, sektor barang konsumsi non-pokok (consumer discretionary) mencatat penurunan persentase terbesar. Sementara itu, sektor energi menguat 2,3% karena mendapat dorongan dari kenaikan harga minyak mentah.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 15,85 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 15,14 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

Ketiga indeks utama saham AS tersebut melanjutkan pelemahan yang terjadi pada perdagangan Senin. Sentimen risk-off yang meluas menekan hampir seluruh sektor, dengan sektor energi menjadi pengecualian.

Sektor energi justru mendapat keuntungan dari meningkatnya konflik di Timur Tengah, termasuk serangan baru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi.

"Mengingat kenaikan harga bahan bakar, terutama solar, prospek yang hampir pasti mengenai kenaikan suku bunga mulai besok, serta kekhawatiran akan potensi perlambatan dalam ekosistem AI, mengapa harus masuk ke pasar secara agresif sebelum situasi ini menjadi lebih jelas?" ujar Peter Tuz, presiden Chase Investment Counsel di Charlottesville, Virginia, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Federal Reserve telah memulai pertemuan kebijakan moneter selama dua hari yang dijadwalkan berakhir pada Rabu dengan keputusan mengenai suku bunga bank sentral.

Data ekonomi terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja masih berada dalam kondisi kokoh. Di sisi lain, tekanan harga energi akibat perang mulai berkembang menjadi inflasi yang lebih luas. Kondisi tersebut membuat bank sentral diperkirakan menaikkan suku bunga acuan (Fed funds rate) sebesar 25 basis poin.

Pasar keuangan memperhitungkan peluang sebesar 94,5% untuk kenaikan suku bunga pada Rabu. Angka tersebut meningkat dari 33,1% sebulan sebelumnya berdasarkan data perangkat FedWatch milik CME.

Tuz menambahkan bahwa meskipun pasar akan mengetahui keputusan The Fed pada Rabu, konflik Timur Tengah masih menjadi faktor yang sulit diprediksi, terutama terkait durasi konflik tersebut.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent untuk kontrak bulan depan masing-masing ditutup naik 4,4% dan 2,9%. Sementara itu, harga kontrak berjangka (futures) solar ditutup pada level tertinggi sepanjang sejarah.

"Ini kemungkinan bukan sekadar satu kali kenaikan lalu selesai, melainkan serangkaian kenaikan suku bunga," ujar Paul Nolte, penasihat kekayaan senior dan ahli strategi pasar di Murphy & Sylvest yang berbasis di Elmhurst, Illinois, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Hal ini akan bergantung pada harga minyak; itulah sumber utama inflasi yang mulai merembet ke sektor pasar lainnya," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Seiring meningkatnya spekulasi mengenai kenaikan suku bunga, imbal hasil obligasi global kembali mengalami kenaikan. Imbal hasil obligasi acuan pemerintah AS atau US Treasury bahkan menembus 5% dan mencapai level tertinggi sejak 2007.

Kenaikan suku bunga juga meningkatkan tekanan terhadap para peminjam yang memiliki utang besar, termasuk perusahaan-perusahaan yang telah menggelontorkan investasi besar di bidang kecerdasan buatan (AI).

Reporter: Ibtihal