IHSG Naik 0,42 Persen, Asing Net Buy Rp77,54 Miliar
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat pada perdagangan sesi I, Kamis (17/9/2026), meski pasar global mendapat tekanan dari keputusan kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Refinitiv, pada akhir perdagangan sesi pertama IHSG menguat 0,42% ke level 6.463,61, setelah sempat bergerak di rentang terendah 6.418 dan tertinggi 6.500. Sebanyak 374 saham menguat, 234 saham melemah, dan 178 saham tidak bergerak. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp7,88 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 16,90 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1,12 juta kali.
Mayoritas sektor perdagangan menguat, dipimpin sektor energi, konsumer, dan finansial. BMRI, BYAN, DSSA, BBRI, dan CUAN tercatat sebagai penopang utama kinerja IHSG hari ini.
Penguatan tersebut terjadi meski The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%, yang merupakan kenaikan pertama sejak Juli 2023. Keputusan tersebut langsung mendorong indeks dolar AS ke level tertinggi sejak 12 Agustus 2026 dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun menembus 5,004%, level tertinggi sejak Juli 2007.
Tekanan pasar turut diperbesar oleh memanasnya konflik di Timur Tengah setelah kelompok Houthi disebut menguasai sejumlah wilayah di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
Sejalan dengan penguatan indeks tersebut, berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing tercatat membukukan aksi beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp77,54 miliar di seluruh pasar (all market) sepanjang sesi I hari ini.
Secara keseluruhan, nilai transaksi asing pada sesi I mencapai Rp4,07 triliun, dengan rincian foreign buy sebesar Rp2,07 triliun dan foreign sell Rp2,00 triliun.
Perburuan asing terbesar tertuju pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan nilai net buy mencapai Rp142,67 miliar, sejalan dengan saham BMRI yang menjadi penopang terbesar IHSG hari ini. Di posisi berikutnya terdapat PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) senilai Rp39,91 miliar, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar Rp32,58 miliar.
Selain itu, investor asing juga memborong PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) sebesar Rp30,80 miliar, yang turut sejalan dengan kontribusinya sebagai penopang indeks. Berikutnya terdapat PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) Rp28,53 miliar dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR) Rp24,89 miliar.
Di sisi lain, aksi jual asing terbesar terjadi pada PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) dengan nilai mencapai Rp79,76 miliar. Disusul PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar Rp45,71 miliar dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) Rp30,56 miliar.
Tekanan jual juga terlihat pada PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) sebesar Rp23,17 miliar, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) Rp22,23 miliar, serta PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) Rp18,20 miliar.
Berikut daftar net foreign buy dan net foreign sell investor asing pada perdagangan sesi I Kamis (17/9/2026).
Net Foreign Buy
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) - Rp142,67 miliar
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) - Rp39,91 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) - Rp32,58 miliar
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) - Rp30,80 miliar
- PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) - Rp28,53 miliar
- PT Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR) - Rp24,89 miliar
- PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) - Rp21,55 miliar
- PT Petrosea Tbk. (PTRO) - Rp20,30 miliar
- PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) - Rp19,08 miliar
- PT Dana Brata Luhur Tbk. (TEBE) - Rp11,67 miliar
Net Foreign Sell
- PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) - Rp79,76 miliar
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) - Rp45,71 miliar
- PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) - Rp30,56 miliar
- PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) - Rp23,17 miliar
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) - Rp22,23 miliar
- PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) - Rp18,20 miliar
- PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) - Rp15,90 miliar
- PT Timah Tbk. (TINS) - Rp15,55 miliar
- PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) - Rp8,19 miliar
- PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) - Rp7,80 miliar