Outlook BYAN Jadi Negatif, Produksi Batu Bara Terancam Turun

Ilustrasi produksi batubara Bayan Resources berpotensi turun akibat ketidakpastian persetujuan kuota produksi (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 18 September 2026 | 23:24:39 WIB

JAKARTA - Moody’s Ratings memangkas outlook peringkat PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut tetap mempertahankan peringkat corporate family rating (CFR) BYAN pada level Ba1.

Peringkat Ba1 Bayan mencerminkan posisi perusahaan sebagai salah satu produsen batubara termal terbesar di Indonesia, didukung umur cadangan tambang yang panjang, struktur biaya rendah, profitabilitas yang kuat, likuiditas sangat baik serta kebijakan keuangan yang prudent.

Assistant Vice President Moody’s Ratings Anthony Prayugo mengatakan, perubahan outlook tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian regulasi mengenai alokasi kuota produksi batubara BYAN.

BYAN sebelumnya telah menyatakan force majeure pada 14 September 2026 atas kewajiban pasokan batubara. Langkah tersebut dilakukan setelah terjadi keterlambatan persetujuan pemerintah Indonesia terhadap revisi kenaikan kuota produksi pertambangan tahunan.

Prayugo menjelaskan, apabila revisi kuota tersebut tidak diperoleh, produksi emiten milik Low Tuck Kwong itu diperkirakan turun menjadi sekitar 39 juta metrik ton (MT) pada 2026, dari sekitar 68 juta MT pada tahun sebelumnya.

“BYAN memiliki metrik kredit yang tetap kuat berkat neraca tanpa utang, tetapi ketidakpastian persetujuan kuota yang berlanjut menimbulkan risiko terhadap kemampuan perusahaan mencapai pertumbuhan produksi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Moody’s menilai, meskipun kuota produksi pada akhirnya dinaikkan, proses persetujuan tahunan yang masih penuh ketidakpastian membuat visibilitas terhadap kemampuan BYAN untuk meningkatkan produksi menjadi lebih terbatas.

Prayugo menyebut situasi tersebut berpotensi menghambat kemampuan BYAN dalam merencanakan produksi, memenuhi kewajiban pengiriman berdasarkan kontrak secara konsisten, serta mencapai pertumbuhan laba dan arus kas sesuai proyeksi sebelumnya.

Jika permintaan revisi kuota tidak mendapatkan persetujuan, Moody’s memperkirakan EBITDA Bayan turun menjadi sekitar US$ 700 juta pada akhir 2026, dari sekitar US$ 1,1 miliar pada tahun buku 2025.

Penurunan EBITDA tersebut terutama dipicu oleh volume penjualan yang lebih rendah. Apabila produksi tetap berada di sekitar 39 juta MT pada 2027, EBITDA BYAN diperkirakan kembali menurun menjadi sekitar US$ 400 juta–US$ 500 juta.

Prayogi menjelaskan, estimasi tersebut menggunakan asumsi harga jual rata-rata sebesar US$ 48 per MT, yang berada di bawah perkiraan harga jual terealisasi BYAN pada 2026. Proyeksi tersebut juga jauh lebih rendah dibandingkan ekspektasi sebelumnya.

Sebelumnya, Moody’s memperkirakan EBITDA Bayan dapat mencapai sekitar US$ 1 miliar per tahun dengan asumsi produksi terus meningkat menuju kapasitas penuh sekitar 80 juta MT dalam beberapa tahun mendatang.

Kendati menghadapi tekanan terhadap produksi dan kinerja keuangan, Moody’s menyatakan metrik kredit BYAN masih sangat kuat. BYAN diperkirakan mampu membiayai belanja modal melalui arus kas internal sehingga kebutuhan tambahan utang tetap terbatas.

Dengan kondisi tersebut, Moody’s memperkirakan rasio utang terhadap EBITDA yang disesuaikan akan tetap berada di bawah 0,5 kali dalam dua tahun ke depan. Likuiditas BYAN juga diproyeksikan tetap sangat baik selama 18 bulan mendatang.

Per akhir Juni 2026, BYAN memiliki sekitar US$ 650 juta fasilitas modal kerja berkomitmen dari perbankan yang belum ditarik. Prayugo menyebut kas internal dan arus kas operasi juga dinilai mencukupi untuk membiayai capex serta pembayaran dividen.

Reporter: Ibtihal