Keluar dari FTSE Russell, Saham ALII dan SILO Hadapi Tekanan Jual

Ilustrasi perdagangan saham ALII dan SILO menghadapi potensi tekanan jual akibat rebalancing indeks (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Jumat, 18 September 2026 | 23:25:50 WIB

JAKARTA - Saham PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) berpotensi menghadapi tekanan jual setelah FTSE Russell mengeluarkan kedua saham tersebut dari indeks globalnya.

ALII akan keluar dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Micro Cap, sedangkan SILO dikeluarkan dari GEIS Small Cap. Perubahan tersebut berlaku efektif mulai 21 September 2026.

Kedua saham sebenarnya masih memenuhi ambang batas kapitalisasi pasar dan likuiditas. Namun, FTSE Russell mengeluarkannya karena tidak memenuhi kriteria surveillance stock screen.

Konsekuensi terdekat dari perubahan tersebut bagi pasar adalah potensi berkurangnya aliran dana dari investor yang menggunakan indeks FTSE Russell sebagai acuan.

Dana pasif atau passive fund yang mengikuti indeks dapat menyesuaikan portofolionya menjelang maupun ketika tanggal efektif perubahan indeks berlangsung.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama mengatakan, dampak keluarnya ALII dan SILO dari FTSE Russell lebih berpotensi terasa pada harga saham dalam jangka pendek melalui tekanan jual akibat rebalancing.

“Dampaknya lebih banyak ke pergerakan harga jangka pendek, bukan berarti fundamental kedua emiten langsung memburuk,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Kevin, sebagian sentimen negatif kemungkinan telah tercermin dalam harga saham karena perubahan indeks tersebut sudah diketahui pasar sebelum tanggal efektif.

Meski begitu, potensi tekanan jual masih terbuka karena investor institusi dapat mengurangi kepemilikan guna menyesuaikan portofolionya dengan komposisi indeks terbaru.

Besaran tekanan jual tidak dapat dihitung secara pasti. Hal ini karena tidak tersedia data publik yang secara langsung menunjukkan berapa besar dana pasif yang mengikuti FTSE Russell dan berapa porsi kepemilikan ALII maupun SILO yang harus dilepas.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama juga melihat adanya potensi selling pressure menjelang 21 September 2026.

Investor institusi tidak harus menunggu tanggal efektif untuk melakukan rebalancing sehingga tekanan jual dapat muncul lebih awal.

Namun, menurut Elandry, dampak rebalancing FTSE Russell terhadap saham domestik selama ini cenderung lebih terbatas dibandingkan perubahan indeks MSCI. Tekanan jual yang disebabkan faktor indeks juga biasanya paling terasa di sekitar periode efektif rebalancing.

Dengan demikian, keluarnya ALII dan SILO dari FTSE Russell lebih berkaitan dengan capital flow dan likuiditas saham dalam jangka pendek, bukan perubahan langsung terhadap pendapatan maupun laba perusahaan.

Kevin menilai hal yang perlu diperhatikan justru konsentrasi kepemilikan dan likuiditas saham. Apabila kondisi tersebut tidak berubah, minat investor institusi terhadap kedua saham dapat tetap terbatas dan peluang untuk kembali masuk indeks menjadi lebih kecil.

“Kalau kondisi kepemilikan dan likuiditas tidak berubah, minat investor institusi bisa tetap terbatas,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dari sisi fundamental, kedua emiten masih memiliki karakteristik kinerja operasional yang berbeda. SILO dinilai relatif lebih defensif karena menjalankan bisnis di sektor kesehatan.

Pada semester I 2026, pendapatan SILO tumbuh sekitar 10,8% secara tahunan, sedangkan laba bersih meningkat sekitar 27,9%. Elandry menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan fundamental SILO masih solid meskipun sahamnya menghadapi sentimen negatif akibat perubahan indeks.

Sementara itu, ALII memiliki karakter bisnis yang lebih siklikal karena bergerak di bidang logistik batu bara. Kinerja perusahaan berkaitan erat dengan volume angkutan, aktivitas pertambangan, harga komoditas serta kontrak logistik yang diperoleh.

Kevin masih melihat prospek operasional ALII cukup baik dengan pendapatan dan laba yang tumbuh. Namun, sensitivitas terhadap aktivitas pertambangan membuat kinerja ALII lebih mudah dipengaruhi perubahan siklus komoditas dibandingkan SILO.

Setelah proses rebalancing selesai, perhatian pasar berpotensi kembali tertuju pada kinerja fundamental masing-masing emiten. Karena itu, tekanan harga akibat keluarnya saham dari indeks tidak serta-merta mencerminkan perubahan prospek bisnis kedua perusahaan.

Bagi investor, Kevin menyarankan sikap wait and see hingga tekanan sentimen akibat perubahan indeks mereda. Elandry juga menyarankan investor menunggu terbentuknya level support baru sebelum melakukan akumulasi.

Elandry mencermati SILO pada kisaran target harga Rp3.300-Rp3.500 per saham dan ALII pada Rp1.450-Rp1.550 per saham.

Pada penutupan perdagangan Kamis (17/9/2026), saham SILO turun 1,24% ke Rp1.995 per saham. Sementara itu, saham ALII melemah 1,38% menjadi Rp715 per saham.

Reporter: Ibtihal