Anak Tewas dalam Serangan Israel di Gaza, Korban Tembak di Shujayea
INSIDERINDONESIA.COM — Sedikitnya tiga warga Palestina tewas, termasuk seorang anak dan putra pejabat Kementerian Kesehatan Gaza, dalam serangan Israel di beberapa titik di Jalur Gaza. Seorang anak perempuan juga meninggal akibat luka tembak di utara kamp pengungsi Nuseirat, kata Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs.
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan Basir al-Bursh, putra tertua Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Munir al-Bursh, tewas dalam serangan di lingkungan az-Zahra, sebelah barat kamp pengungsi Jabalia, Gaza utara. Kementerian menyampaikan belasungkawa mendalam kepada Munir al-Bursh atas "kesyahidan putra sulungnya".
Serangan terpisah di lingkungan Shujayea, timur Kota Gaza, menewaskan satu warga Palestina. Sumber dari layanan ambulans dan darurat mengonfirmasi hal itu kepada Al Jazeera.
Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs di Deir el-Balah mengumumkan seorang anak perempuan meninggal akibat luka yang dideritanya dari tembakan Israel di utara kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah. Rumah sakit yang sama melaporkan seorang perempuan mengalami luka serius akibat tembakan pasukan Israel di timur kamp pengungsi Maghazi.
Serangan Udara di Jabalia dan Korban di Gaza Tengah
Sumber medis menyebutkan seorang pemuda Palestina tewas dan beberapa lainnya luka-luka dalam serangan udara Israel di barat kamp pengungsi Jabalia, Gaza utara. Serangan itu terjadi sebelum insiden yang menewaskan putra Munir al-Bursh di az-Zahra.
Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 1.381 orang tewas sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Hamas diumumkan pada Oktober 2025. Angka itu menunjukkan kekerasan belum sepenuhnya berhenti meski kesepakatan telah dinyatakan berlaku.
Sejak dimulainya perang Israel di Gaza pada Oktober 2023, total korban tewas mencapai 73.795 orang dan 174.869 lainnya luka-luka. Kementerian Kesehatan Gaza merilis angka tersebut tanpa membedakan antara kombatan dan warga sipil.
UNICEF: Satu Anak Tewas Setiap Hari di Gaza
Badan anak-anak PBB, UNICEF, menyatakan rata-rata satu anak tewas setiap hari di Gaza akibat serangan Israel. Pernyataan itu dirilis bulan lalu dan menjadi salah satu penilaian paling tegas dari lembaga internasional soal dampak kemanusiaan konflik ini terhadap anak-anak.
UNICEF juga melaporkan keluarga-keluarga Palestina kini terkonsentrasi di sekitar sepertiga wilayah Gaza. Mereka berlindung di antara bangunan hancur, puing, dan sampah yang belum dibersihkan.
Kondisi permukiman yang padat dan rusak memperbesar risiko penyakit serta memperumit distribusi bantuan. Lembaga kemanusiaan berulang kali menyoroti keterbatasan akses masuknya pasokan ke wilayah kantong itu.
Klaim Korban dan Verifikasi Independen
Angka korban yang dirilis Kementerian Kesehatan Gaza tidak bisa diverifikasi secara independen karena akses jurnalis ke Gaza dibatasi Israel. Al Jazeera melaporkan sejumlah korban berdasarkan keterangan sumber medis dan layanan darurat di lapangan.
Israel menyatakan serangan militernya menyasar target Hamas dan infrastruktur militer. Pihak Israel belum memberikan komentar spesifik atas insiden terbaru di Shujayea, Nuseirat, Maghazi, maupun az-Zahra.
Hamas dan kelompok Palestina lain menuding Israel melanggar ketentuan gencatan senjata dengan terus melakukan operasi militer. Sebaliknya, Israel menuduh Hamas tidak memenuhi komitmen keamanan yang disepakati dalam perundingan.
Perkembangan yang ditunggu sekarang adalah apakah mediator — Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir — akan menekan kedua pihak untuk kembali ke meja perundingan. Tanpa tekanan itu, kekhawatiran akan eskalasi lanjutan di Gaza utara dan tengah tetap tinggi.