Breaking

Harga CPO Melesat Hingga Level Tertinggi dalam Tiga Bulan

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 24 Juli 2026
Harga CPO Melesat Hingga Level Tertinggi dalam Tiga Bulan
Ilustrasi sawit (sumber foto : NET)

JAKARTA – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) melonjak tinggi pada Kamis (23/7/2026) setelah sempat berada di level tertinggi dalam kurun waktu lebih dari tiga bulan. Lonjakan ini didorong oleh perkiraan pasokan yang kian mengetat serta tingginya permintaan biodiesel akibat melambungnya harga minyak dunia.

Berdasarkan data BMD pada penutupan Kamis (23/7/2026), kontrak berjangka CPO periode Agustus 2026 naik 66 Ringgit Malaysia menjadi 4.596 Ringgit Malaysia per ton. Adapun kontrak berjangka CPO September 2026 menguat 80 Ringgit Malaysia ke angka 4.663 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak CPO untuk Oktober 2026 bertambah 88 Ringgit Malaysia menjadi 4.710 Ringgit Malaysia per ton. Pada periode November 2026, harganya terangkat 87 Ringgit Malaysia ke level 4.741 Ringgit Malaysia per ton.

Untuk pengiriman Desember 2026, harga kontrak CPO melesat 85 Ringgit Malaysia menjadi 4.768 Ringgit Malaysia per ton. Lalu, kontrak CPO periode Januari 2027 naik 82 Ringgit Malaysia menuju level 4.793 Ringgit Malaysia per ton.

Direktur The Farm Trade Sandeep Singh menjelaskan bahwa kenaikan harga dipicu aksi beli investor lantaran terdorong sentimen positif. Sentimen tersebut meliputi potensi fenomena El Nino, perkiraan penurunan produksi pada kuartal IV-2026 sampai semester I-2027, hingga melambungnya permintaan biodiesel.

Di samping itu, para pelaku pasar mulai mengantisipasi lonjakan permintaan minyak nabati dari India saat mendekati musim festival.

"Investor mendorong harga menembus level penting karena didukung risiko El Nino, prospek produksi yang lebih rendah, permintaan biodiesel akibat ketegangan di Timur Tengah, serta meningkatnya kebutuhan India menjelang musim festival," ujar Singh sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kenaikan CPO ini selaras dengan tren penguatan harga minyak nabati lain. Kontrak minyak kedelai teraktif di Bursa Dalian terangkat 0,75%, sedangkan minyak sawit di bursa serupa melambung 2,85%, serta minyak kedelai di Bursa Chicago (CBOT) naik 0,84%.

Pergerakan harga CPO biasanya berbanding lurus dengan minyak nabati saingannya lantaran sama-sama berebut pangsa pasar minyak nabati global.

Kenaikan CPO turut terdorong oleh reli harga minyak bumi dunia. Harga minyak berada di titik tertinggi dalam lebih dari sebulan usai menguat lima hari beruntun akibat memanasnya ketegangan AS dan Iran yang mengancam pasokan energi global.

Tingginya harga minyak bumi menjadikan CPO semakin kompetitif sebagai bahan baku biodiesel, sehingga berpeluang menggenjot permintaan pasar.

Di sisi lain, Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memprediksi harga CPO Malaysia berada pada kisaran 4.400-4.650 Ringgit Malaysia per ton selama Agustus 2026.

Melihat aspek permintaan, impor minyak nabati India diproyeksikan melonjak pada rentang Juli hingga Oktober. Tren kenaikan ini dipicu oleh melambatnya pengolahan kedelai serta rapa (rapeseed) yang menekan pasokan domestik jelang puncak konsumsi musim festival.

Dari segi pasokan global, Rabobank menaksir produksi kedelai Brasil pada musim tanam 2026/2027 bakal terkoreksi sekitar 2% menjadi 178 juta ton jika dibandingkan rekor panen sebelumnya. Tantangan pasar yang masih ada diperkirakan bakal membuat ekspansi lahan tanam kedelai menjadi stagnan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua