Breaking

Laba AALI Melesat 56 Persen Emiten CPO Tampil Bervariasi Semester I 2026

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 04 Agustus 2026
Laba AALI Melesat 56 Persen Emiten CPO Tampil Bervariasi Semester I 2026
Ilusrasi sawit (FOTO: NET)

JAKARTA – Astra Agro Lestari (AALI) menjadi emiten crude palm oil (CPO) dengan capaian paling menonjol pada semester I-2026. Di tengah kondisi industri yang beragam, AALI sukses meraih lonjakan laba bersih melebihi 56%, sedangkan beberapa emiten lainnya masih tertekan oleh penurunan penjualan maupun laba.

Sampai 30 Juni 2026, AALI mencatatkan pendapatan sebesar Rp 15,25 triliun atau tumbuh 5,62% secara tahunan (yoy). Pada saat yang sama, laba bersihnya melonjak 56,51% yoy hingga mencapai Rp 1,09 triliun.

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) turut mencatatkan capaian positif melalui pendapatan Rp 5,85 triliun yang naik 6,33% yoy, serta pertumbuhan laba bersih 20,43% yoy menjadi Rp 2,04 triliun.

Sementara itu, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) mengantongi pendapatan Rp 6,29 triliun atau menguat 3,4% yoy. Laba bersih perusahaannya pun terangkat 7,8% menjadi Rp 985,88 miliar.

Direktur Utama DSNG Andrianto Oetomo menyampaikan bahwa pendorong utama kenaikan laba adalah peningkatan volume penjualan CPO dan palm kernel beserta membaiknya harga jual rata-rata (ASP).

"Kenaikan volume penjualan dan ASP menjadi pendorong utama pertumbuhan laba," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga membukukan kinerja positif dengan kenaikan penjualan 15,87% yoy menjadi Rp 2,69 triliun dan pertumbuhan laba bersih 24,71% menjadi Rp 890,99 miliar.

Di sisi lain, emiten sawit milik Grup Haji Isam masih mengalami penurunan. PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) mencatat penjualan Rp 1,76 triliun atau turun 13,6% yoy, dengan laba bersih yang terkoreksi 0,91% menjadi Rp 158,93 miliar.

Anak usahanya, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), turut tertekan akibat penurunan penjualan sebesar 20,82% menjadi Rp 304,98 miliar serta perosotan laba bersih 46,71% menjadi Rp 44,51 miliar.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai bahwa kinerja emiten CPO pada semester I-2026 secara umum masih tergolong stabil. Variasi performa antar-emiten terutama dipengaruhi oleh volume produksi tandan buah segar (TBS) dan efisiensi dalam pengolahan.

Menurut pandangannya, penopang utama industri ini adalah harga CPO global yang stabil serta permintaan domestik yang kuat lewat program mandatori biodiesel.

Saat ini harga CPO berada di level RM 4.629 per ton atau meningkat sekitar 14,3% sejak awal tahun. Walau demikian, tantangan industri masih timbul dari normalisasi produksi sawit pascasiklus cuaca dan peningkatan biaya operasional maupun logistik.

David menilai emiten yang memiliki struktur biaya rendah dan pengelolaan usia tanaman yang baik, seperti TAPG dan LSIP, berpeluang menjaga margin keuntungan agar tetap kuat.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua