Breaking

Sterling Melemah di Tengah Ketidakpastian Dolar AS Akibat Pengaruh Yen

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 08 September 2026
Sterling Melemah di Tengah Ketidakpastian Dolar AS Akibat Pengaruh Yen
Ilustrasi eurusd (FOTO : NET)

JAKARTA – Sterling diperdagangkan sedikit turun pada Selasa dan euro turut melemah akibat aksi jual USD/JPY yang didorong reli yen membayangi sentimen dolar AS secara umum.

Pada pukul 16:15 WIB, GBP/USD tercatat melemah 0,06 persen ke level 1,3531 dan EUR/USD merosot 0,08 persen ke posisi 1,1614.

Dinamika utama sesi ini didominasi oleh pergerakan yen yang melonjak tinggi hingga menekan USD/JPY menembus level 155,0 sebelum turun ke 153,0 semalam di tengah tipisnya likuiditas libur Hari Buruh AS.

"Ini masih terlihat terutama sebagai cerita JPY daripada bukti pergeseran sentimen yang lebih luas terhadap dolar," kata Francesco Pesole, ahli strategi valas di ING sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Fokus para pelaku pasar semakin tertuju pada sikap hawkish Bank of Japan serta ekspektasi penambahan porsi aset domestik oleh Dana Pensiun Pemerintah Jepang (Government Pension Investment Fund).

Pesole menilai pergerakan tersebut cukup berlebihan jika dilihat dari kondisi fundamental jangka pendek, dengan area support USD/JPY berikutnya berada di 152 dan penurunan menuju 150 terbuka jika level itu tertembus sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dolar AS memperoleh penopang dari kuatnya data tenaga kerja dan tingginya harga energi saat minyak mentah Brent mendekati $100 per barel, meskipun pasar hanya memperkirakan pengetatan Federal Reserve sekitar 15 basis poin pada September.

Agenda ekonomi AS tergolong sepi pada Selasa tanpa adanya pidato pejabat The Fed, sehingga rilis data CPI AS pada Jumat menjadi fokus risiko utama penentu arah dolar.

Pesole menyebutkan bahwa data CPI "tetap menjadi peristiwa risiko yang jelas" yang dapat menegaskan atau mengubah arah narasi pasar saat ini sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Penurunan nilai tukar sterling tidak disebabkan oleh kondisi internal ekonomi Inggris, melainkan lebih disebabkan oleh pengaruh pergerakan yen serta dolar secara global.

Meskipun demikian, pound sempat memperoleh penahan dari pernyataan Menteri Keuangan John Healey terkait komitmen disiplin anggaran pada pidato fiskal utamanya di hari Senin.

Pernyataan fiskal tersebut menjaga pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Inggris (gilt) tenor panjang tetap setara dengan tren aksi jual obligasi secara global.

"Ekspektasi terhadap Bank of England terlihat terlalu hawkish," kata Pesole, membuat ING memiliki bias positif pada EUR/GBP dan membatasi potensi kenaikan sterling dalam jangka pendek sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sementara itu, euro mendapat dorongan terbatas dari penyesuaian data pertumbuhan PDB zona euro kuartal II yang direvisi naik menjadi 0,6 persen dari 0,4 persen secara kuartalan berkat dorongan kinerja perusahaan multinasional Irlandia.

Tekanan baru bagi zona euro muncul dari lonjakan harga energi yang menyeret nilai tukar komoditas ke bawah level terendah pada Maret.

Menurut penilaian ING, agenda pertemuan ECB pada Kamis mendatang membawa potensi risiko dovish terhadap ekspektasi harga di pasar sebagaimana dilansir dari berita sumber.

ING memproyeksikan EUR/USD akan bergerak menuju 1,150 dalam kurun beberapa pekan ke depan seiring perkiraan kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Proyeksi tersebut hanya dapat berbalik jika data CPI Jumat jauh melandai atau The Fed secara tegas memberi sinyal dovish.

Untuk GBP/USD, pihak bank memperkirakan EUR/GBP berpeluang naik dan belum melihat potensi pemulihan sterling dalam jangka pendek tanpa adanya penyesuaian ulang terhadap ekspektasi BoE.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua