Breaking

Dolar AS Naik ke Rp17.530, Rupiah Terdepresiasi 0,17 Persen

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Jumat, 11 September 2026
Dolar AS Naik ke Rp17.530, Rupiah Terdepresiasi 0,17 Persen
Ilustrasi nilai tukar rupiah (FOTO : NET)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini.

Data Refinitiv menunjukkan rupiah terdepresiasi 0,17% dan menutup perdagangan Kamis (10/9/2026) di posisi Rp17.530/US$. Posisi ini berbalik dibandingkan saat pembukaan di Rp17.495/US$ yang sempat menguat 0,03%.

Pelemahan tersebut membalikkan penguatan tajam pada perdagangan sebelumnya Rabu (9/9/2026), ketika rupiah ditutup melesat 0,71% ke level Rp17.500/US$. Meski mengalami koreksi, rupiah tetap berada di sekitar posisi terkuatnya dalam kurun waktu hampir 17 pekan terakhir.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah 0,10% ke posisi 98,721 pada pukul 15.00 WIB.

Pergerakan mata uang rupiah hari ini berlangsung di tengah lonjakan harga minyak bumi serta imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Harga minyak Brent masih bertahan di atas level US$100 per barel setelah berhasil menembus angka tersebut pada perdagangan Rabu kemarin. Lonjakan ini terjadi saat Iran dan AS melancarkan gelombang serangan terbesar terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz sejak perang dimulai.

Konflik yang memanas tersebut meningkatkan kekhawatiran publik terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga energi turut memicu kecemasan terhadap laju inflasi, sehingga imbal hasil obligasi global kembali merangkak naik. Bahkan, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menyentuh posisi tertinggi sejak tahun 2023.

Peningkatan imbal hasil tersebut berpotensi menaikkan daya tarik aset berdenominasi dolar sekaligus menekan mata uang negara berkembang. Namun, dinamika ini belum mampu mendongkrak DXY yang kembali merosot ke kisaran level 98,7.

Pergerakan dolar AS masih tertahan oleh penguatan yen Jepang yang berada di kisaran level tertinggi dalam kurun tujuh bulan. Para pelaku pasar memprediksi Bank of Japan (BOJ) akan mengerek suku bunga pada pekan depan.

Pelaku pasar juga sedang menantikan rilis data inflasi produsen AS pada Kamis waktu setempat serta data inflasi konsumen pada Jumat. Kedua indikator tersebut menjadi rangkaian data utama terakhir sebelum bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) menggelar rapat pada 15-16 September.

Saat ini, pelaku pasar memperhitungkan peluang sekitar 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan ini pascarelis laporan tenaga kerja AS pekan lalu yang lebih kuat dari estimasi.

Guna merespons kenaikan harga minyak global, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan APBN masih mampu menahan dampak kenaikan harga minyak dunia hingga kisaran US$100 per barel.

"Anggarannya masih cukup seperti yang kami hitung sebelumnya," kata Purbaya saat ditemui di Jakarta, Kamis (10/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan penuturan Purbaya, pemerintah belum memiliki rencana untuk menambah kuota subsidi energi, tetapi bakal terus memantau dinamika harga minyak dunia.

Kalkulasi fiskal pemerintah dengan asumsi defisit APBN sebesar 2,85% terhadap produk domestik bruto (PDB) telah memperhitungkan kemungkinan harga minyak berada di kisaran US$100 per barel.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua