Harga CPO Diproyeksikan Fluktuatif Terbatas Sepekan ke Depan
JAKARTA – Nilai jual crude palm oil (CPO) pada Bursa Malaysia Derivatives diproyeksikan bakal mengalami fluktuasi dalam rentang yang sempit selama sepekan ke depan, menyusul mulai kondusifnya situasi geopolitik di wilayah Asia Barat.
Berdasarkan data Bernama, sejumlah pelaku pasar memperkirakan CPO akan diperdagangkan pada kisaran 4.200 - 4.300 Ringgit Malaysia per ton, meski beberapa analis menilai tetap ada potensi penguatan yang terbatas.
Senior palm oil trader Interband Group of Companies Jim Teh memaparkan bahwa pergerakan pasar CPO sebelumnya sempat memperoleh stimulus dari ketegangan geopolitik yang memicu spekulasi di pasar komoditas, termasuk sektor energi.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “CPO menjadi salah satu aset yang diuntungkan dari reli berbasis konflik di pasar komoditas,” ujarnya.
Meski demikian, harga minyak mentah saat ini telah terkoreksi ke kisaran US$ 80 per barel, sehingga berdampak pada melemahnya dukungan sektor energi terhadap peningkatan nilai jual CPO.
Di sisi lain, proprietary trader Iceberg X Sdn Bhd David Ng menilai bahwa nilai jual CPO masih berpeluang untuk bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat secara terbatas di tengah tingginya harga energi saat ini serta volume permintaan yang tetap solid.
Ia memperkirakan nilai jual CPO akan bergerak fluktuatif dalam rentang 4.550 - 4.750 Ringgit Malaysia per ton untuk periode mendatang.
Melihat pada data perdagangan mingguan (Jumat ke Jumat), kontrak berjangka CPO untuk periode Juli 2026 tercatat melonjak sebesar 159 Ringgit Malaysia ke level 4.594 Ringgit Malaysia per ton.
Untuk periode Agustus 2026 mencatatkan kenaikan sebesar 147 Ringgit Malaysia ke level 4.622 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan untuk periode September 2026 meningkat sebesar 135 Ringgit Malaysia ke level 4.646 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara pada periode Oktober 2026, nilainya terdongkrak sebesar 124 Ringgit Malaysia menuju angka 4.668 Ringgit Malaysia per ton.
Untuk periode November 2026 mengalami kenaikan sebesar 118 Ringgit Malaysia ke level 4.689 Ringgit Malaysia per ton, dan untuk periode Desember 2026 berada pada posisi 4.710 Ringgit Malaysia per ton.