Nilai Minyak Global Merosot Dipicu Sinyal Damai AS dan Iran
HOUSTON – Nilai minyak global ditutup merosot sekitar 1% pada sesi perdagangan Selasa (23/6/2026) waktu New York, seiring meningkatnya kewaspadaan para pelaku pasar terhadap kelancaran jalur distribusi minyak lewat Selat Hormuz setelah tampak indikasi kemajuan dalam dialog damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Melansir laporan Reuters, nilai minyak mentah jenis Brent merosot US$ 0,82 (1,1%) ke posisi US$ 77,08 per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menyusut US$ 0,65 (0,9%) menuju level US$ 73,21 per barel.
Kedua standar harga internasional tersebut bahkan sempat menyentuh titik terendah dalam kurun waktu hampir empat bulan terakhir selama sesi perdagangan intraday.
Pelemahan nilai minyak ini melanjutkan tren penurunan sebesar 3% pada hari sebelumnya, menyusul langkah AS yang memberikan kelonggaran sanksi selama 60 hari kepada pihak Iran serta meredanya gejolak di Lebanon dalam kesepakatan damai tahap awal.
Perhatian pasar saat ini tertuju pada pergerakan aktivitas pelayaran di kawasan Selat Hormuz, sebuah jalur laut vital yang dilewati hampir seperlima dari total pasokan minyak dan gas global.
Pihak Oman dan Iran dilaporkan telah sepakat untuk meneruskan dialog mengenai tata kelola navigasi di area strategis tersebut.
Walau begitu, otoritas Amerika Serikat memberi penegasan bahwa Iran tidak akan diizinkan menarik biaya atau 'tarif tol' atas pemanfaatan koridor pelayaran itu dalam perjanjian final nanti, lantaran dianggap menyalahi hukum internasional.
Di sudut lain, beberapa indikator pemulihan jalur niaga mulai tampak di permukaan. Berdasarkan data pelacak kapal, sejumlah tanker kedapatan mulai kembali berlayar melewati Selat Hormuz, termasuk di antaranya tiga kapal supertanker yang sempat tertahan.
Tidak hanya itu, armada kapal pengangkut LNG milik Qatar yang berada dalam kondisi kosong juga dilaporkan mulai masuk kembali ke wilayah perairan tersebut.
Kendati demikian, pemulihan situasi secara total dinilai tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Berbagai persoalan keamanan seperti risiko ranjau, kerusakan fasilitas pelabuhan, hingga problem kepadatan lalu lintas pelayaran masih menjadi kendala yang cukup berat.
“Pemilik kapal membutuhkan jaminan bahwa ancaman ranjau benar-benar sudah hilang. Kerusakan pelabuhan, puing di laut, dan kemacetan juga menjadi tantangan tambahan,” ujar analis PVM Oil Associates, Tamas Varga sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Melihat dari aspek suplai, Irak dilaporkan mendongkrak volume produksi dari ladang minyak bagian selatan menjadi kisaran 2,1 juta barel per hari, berbarengan dengan meningkatnya laju ekspor di area Teluk.
Berbanding terbalik, volume ekspor minyak dari Arab Saudi justru merosot ke posisi paling rendah dalam beberapa bulan ke belakang.
Sementara itu, catatan dari sektor industri mengindikasikan bahwa cadangan minyak mentah serta bahan bakar di Amerika Serikat diproyeksikan kembali berkurang pada minggu lalu.
Situasi penurunan ini berlangsung di tengah posisi cadangan strategis milik AS yang tengah berada di level paling rendah sejak tahun 1983.
Ekonom dari SEB Research, Ole Hvalbye, memberikan pandangan bahwa tekanan dari sektor spekulatif memang menjadi penahan harga dalam periode pendek.
Namun, kondisi minimnya cadangan strategis AS diprediksi memiliki potensi untuk menjadi penopang bagi pergerakan harga minyak dalam beberapa pekan mendatang.