Harga Emas Turun, Pengamat Sebut Waktu yang Bagus untuk Beli

ILUSTRASI, harga emas (Sumber Gambar : Net)
Rabu, 24 Juni 2026 | 12:17:08 WIB

JAKARTA – Nilai emas mengalami penurunan dalam beberapa waktu belakangan ini di tengah pergeseran sentimen pasar internasional.

Walau demikian, pengamat menganggap kemerosotan tersebut sesungguhnya menciptakan momentum akumulasi bagi para penanam modal jangka panjang.

Nilai emas hari ini terpantau melorot sebesar 0,39% menuju level US$ 4.094,88 per ons troi ketika laporan ini disusun. Sementara itu, pada Selasa (24/6/2026), nilai emas ditutup jatuh sedalam 1,94% ke angka US$ 4.110,11 per ons troi.

Chief Operating Officer sekaligus Senior Portfolio Manager KraneShares Mount Lucas Managed Futures Index Strategy ETF (KMLM) Jerry Prior mengungkapkan, penyusutan nilai emas saat ini sama sekali tidak merusak tren besar yang tetap menyokong penguatan jangka panjang komoditas logam mulia tersebut.

“Dengan repricing emas saat ini, ini mungkin level masuk yang cukup bagus,” ujar Prior sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Prior memberikan penegasan bahwa isu de-dolarisasi global tetap menjadi elemen struktural yang menyokong tingkat permintaan emas. Menurut pandangannya, kian banyak negara yang memangkas ketergantungan mereka pada mata uang dolar AS maupun surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS).

“Ada tema de-dolarisasi jangka panjang yang bersifat struktural dan akan bertahan,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Prior memaparkan bahwa beban berat pada pergerakan emas dalam beberapa minggu ke belakang disebabkan oleh aksi lepas aset oleh investor spekulatif, sovereign buyer, hingga pengelolaan dana berbasis sistematis. 

Pergeseran proyeksi mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed serta meredanya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah ikut andil dalam menekan harga.

Meski begitu, Prior menganggap bahwa mayoritas dari tekanan tersebut sejatinya telah diantisipasi oleh harga saat ini, walau gejolak jangka pendek masih berpotensi untuk terus terjadi.

Ia pun menggarisbawahi bahwa emas tetap memegang peran sebagai aset defensif di dalam portofolio investasi, utamanya di tengah situasi ketidakpastian ekonomi dunia serta fluktuasi arah inflasi.

“Emas adalah aset defensif dalam portofolio,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Melangkah lebih dalam, Prior memprediksi bahwa laju inflasi global akan terus bertahan di atas posisi sebelum masa pandemi akibat adanya pergeseran pada rantai pasokan serta tren reshoring yang mengikis dampak disinflasi global.

Melalui proyeksi yang disusunnya, nilai emas dinilai masih memiliki ruang untuk menguat menuju rentang US$ 4.500 per ons pada penutupan tahun, disokong oleh kembalinya aksi beli dari bank-bank sentral serta tren de-dolarisasi yang terus berjalan.

“Emas masih dalam tren naik jangka panjang. Koreksi ini lebih seperti reset dalam siklus bullish,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan