Indeks Nasdaq Terperosok 2,21 Persen Dipicu Kejatuhan Saham AI

Ilustrasi: Saham chip memori Micron Technology dan Sandisk anjlok masing-masing 13 persen. (Gambar: NET)
Rabu, 24 Juni 2026 | 14:47:41 WIB

NEW YORK – Indeks saham di bursa Wall Street secara serempak ditutup di zona merah pada akhir perdagangan Selasa (23/6/2026) waktu setempat. Kemerosotan ini diakibatkan oleh maraknya aksi lepas saham secara besar-besaran di sektor teknologi dan semikonduktor, yang kemudian memicu tren koreksi di pasar saham global.

Indeks Nasdaq Composite anjlok sebesar 2,21 persen menuju level 25.587,04, menyusul pelemahan sebesar 1,3 persen pada sesi perdagangan Senin (22/6/2026) sebelumnya, sebagaimana dilansir dari sumber berita. 

Di sisi lain, indeks S&P 500 mengalami penurunan 1,44 persen ke level 7.365,46, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi tipis 45,87 poin atau sekitar 0,09 persen ke posisi 51.666,84.

Tekanan emiten paling berat dirasakan oleh saham-saham yang sebelumnya mendulang keuntungan dari popularitas tren kecerdasan buatan (AI). Produsen chip memori Micron Technology terpangkas hingga 13 persen, dan Sandisk juga mencatatkan kemerosotan yang sama sebesar 13 persen.

Sejumlah saham teknologi lainnya pun tidak luput dari koreksi, di mana Seagate Technology melemah di atas 5 persen dan Intel jatuh hingga 6 persen. Tidak hanya itu, Advanced Micro Devices (AMD) terkoreksi hampir 6 persen, sedangkan Qualcomm merosot sekitar 8 persen.

Penurunan ini turut membebaskan kinerja exchange-traded fund (ETF) pada sektor teknologi. Technology Select Sector SPDR Fund (XLK) tercatat turun 4 persen, sedangkan VanEck Semiconductor ETF (SMH) terperosok hingga 7 persen.

Gelombang pelemahan ini tidak hanya melanda Wall Street, melainkan merembet ke bursa Asia dengan pasar Korea Selatan sebagai pemimpin penurunan. Indeks Kospi melemah hampir 10 persen, yang diperberat oleh kejatuhan saham raksasa chip memori SK Hynix sebesar lebih dari 12 persen.

Di negara Jepang, indeks Nikkei 225 terpangkas 3,55 persen sekaligus memutus tren penguatan yang sempat bertahan selama delapan hari berturut-turut. Para pemodal mulai mengambil langkah ambil untung (profit taking) setelah saham berbasis teknologi dan AI melonjak sangat signifikan di sepanjang tahun ini.

Kendati demikian, tren pelemahan di pasar modal tidak terjadi secara merata di seluruh sektor. Beberapa saham teknologi dengan kapitalisasi pasar besar di luar industri chip justru berhasil menguat, di antaranya adalah Microsoft dan Amazon.

Saham-saham sektor defensif seperti Walmart, Procter & Gamble, serta Johnson & Johnson sukses bergerak di zona hijau dan turut meredam kejatuhan indeks utama. 

Di samping itu, saham IBM melesat hingga 5 persen setelah mendapatkan rekomendasi overweight dari JPMorgan, sementara saham Sherwin-Williams dan Merck juga sanggup ditutup di area positif.

Di tempat lain, Alphabet kembali menghadapi tekanan dengan koreksi sebesar 1 persen, setelah pada hari sebelumnya jatuh hingga 5 persen. Para pelaku pasar masih memantau secara ketat kabar terkait mundurnya sejumlah talenta penting di bidang AI dari perusahaan induk Google tersebut.

Senior Portfolio Manager Morgan Stanley Investment Management, Andrew Slimmon, berpandangan bahwa aksi jual masif ini dipicu oleh posisi investasi para pemodal yang sudah terlalu padat pada saham-saham bertema AI.

Ia menyebutkan bahwa saham penikmat tren AI merupakan buruan utama pasar belakangan ini, sehingga menjadi sangat rentan mengalami koreksi yang dalam saat para investor mulai merealisasikan keuntungan mereka.

“Penerima manfaat AI sedang mengalami aksi jual. Menurut saya valuasinya tidak mahal, tetapi posisinya sudah terlalu ramai. Ketika sebuah tema menjadi pusat perhatian trader momentum, koreksi tajam seperti ini sangat mungkin terjadi. Saya justru melihatnya sebagai sesuatu yang sehat bagi pasar,” kata Slimmon, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Reporter: Gemilang Ramadhan