Harga Minyak Mentah Dunia Merosot ke Level Terendah dalam 4 Bulan

ILUSTRASI, Harga minyak mentah dunia turun ke level terendah sejak Maret 2026 akibat optimisme negosiasi AS-Iran. (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 02 Juli 2026 | 13:02:52 WIB

NEW YORK – Nilai komoditas minyak dunia berakhir merosot melampaui 1% pada sesi transaksi Rabu (1/7/2026), sekaligus mencatat level paling rendah sepanjang empat bulan belakangan.

Penurunan tajam ini dipicu oleh meningkatnya optimisme publik terhadap proses negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang diharapkan dapat mereduksi potensi gangguan pada jalur pasokan minyak internasional.

Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup melemah sebesar US$ 1,38 (1,89%) menjadi US$ 71,57 per barel. 

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami koreksi sebesar US$ 0,92 (1,32%) ke posisi US$ 68,58 per barel. Bagi kedua jenis minyak tersebut, angka penutupan ini merupakan yang terendah sejak Maret 2026.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa interaksi dengan pihak Iran menunjukkan indikasi yang positif, dan perundingan yang sedang berlangsung di Qatar memperlihatkan perkembangan yang memuaskan.

Di saat yang sama, delegasi dari AS dan Iran menggelar pertemuan teknis di Doha untuk mendiskusikan kelancaran arus pelayaran di Selat Hormuz sekaligus merumuskan upaya gencatan senjata yang lebih permanen di kawasan Timur Tengah.

Seorang pengamat pasar dari Saxo Bank, Ole Hansen, menilai bahwa pasar merespons positif terhadap perkembangan tersebut karena berkurangnya risiko hambatan pada suplai minyak dunia.

"Negosiasi yang berlangsung di Qatar dipandang positif sehingga harga minyak terus bergerak turun. Bahkan masih ada peluang harga turun lebih dalam," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Senada dengan pandangan tersebut, Phil Flynn yang merupakan analis dari Price Futures Group mengungkapkan bahwa para pelaku pasar kini mulai meyakini arus lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz akan kembali normal, sehingga prospek pasokan global ke depan menjadi lebih cerah.

Optimisme ini kian diperkuat oleh pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance yang menerangkan bahwa volume logistik minyak yang melewati Selat Hormuz telah kembali ke level sebelum konflik pecah, walaupun dirinya tidak merinci data tersebut secara mendetail.

Di sisi lain, Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah domestik AS menyusut sebanyak 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barel pada pekan lalu.

Meskipun penurunan stok ini berada di bawah estimasi pelaku pasar yang memprediksi pengurangan sebesar 4,5 juta barel, volume cadangan saat ini tercatat sebagai yang paling minim sejak September 2018.

Penyusutan cadangan tersebut terjadi seiring dengan ditingkatkannya aktivitas operasional kilang penyulingan minyak demi memenuhi lonjakan permintaan bahan bakar menjelang perayaan Hari Kemerdekaan AS pada 4 Juli.

Sementara itu, hasil jajak pendapat yang dirilis oleh Reuters menunjukkan bahwa para analis memotong proyeksi harga minyak untuk tahun 2026 untuk pertama kalinya sejak ketegangan dengan Iran pecah. Kembali dibukanya rute pelayaran komersial di Selat Hormuz perlahan mengikis kekhawatiran terkait hambatan pasokan dalam jangka panjang.

Sepanjang kuartal II-2026, nilai minyak Brent telah jatuh berkisar US$ 45 per barel, menandai penurunan kuartalan paling masif sejak krisis keuangan global pada tahun 2008. Sedangkan minyak WTI kehilangan nilai sekitar US$ 31 per barel, yang menjadi koreksi kuartalan terdalam sejak era pandemi Covid-19 di tahun 2020.

Kondisi pasar saat ini juga mulai mengantisipasi kebijakan OPEC+ yang diperkirakan akan meningkatkan kembali kuota volume produksi minyak mulai Agustus mendatang, melalui pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada akhir pekan ini. Sentimen mengenai potensi tambahan pasokan baru ini turut memberikan tekanan pada pergerakan harga minyak dunia.

Reporter: Gemilang Ramadhan