Bedah Kinerja Archi Indonesia ARCI 2025 serta Prospek Tahun 2026
JAKARTA – Archi Indonesia ARCI melaporkan capaian laba bersih US$103 juta sepanjang 2025 dan mengincar kenaikan volume produksi emas minimal 15 persen pada tahun 2026.
Laporan tahunan ini menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar modal dan investor. Data ini mencerminkan bagaimana kondisi fundamental emiten pertambangan emas tersebut dalam mengarungi pasar.
Berdasarkan keterbukaan informasi, emiten ini baru saja melaksanakan agenda Public Expose Tahunan. Pertemuan tersebut merangkum hasil kerja keras perusahaan selama dua belas bulan terakhir.
Sepanjang periode 2025, perusahaan berhasil membukukan angka pendapatan mencapai US$496 juta. Jika dikonversi, nilai tersebut setara dengan Rp8,62 triliun menggunakan kurs tengah Bank Indonesia.
Indikator keuangan lainnya menunjukkan angka EBITDA berada pada posisi US$231 juta. Margin keuntungan yang didapatkan menyentuh angka 47 persen terhadap total pendapatan secara keseluruhan.
Laba bersih yang diraih sebesar US$103 juta menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat. Peningkatan ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan perolehan pada tahun-tahun sebelumnya.
Dari sisi lapangan, volume produksi logam mulia tercatat menyentuh angka 122 ribu ons. Realisasi produksi tersebut berhasil melampaui target yang ditetapkan sebelumnya sebanyak 2 persen.
Faktor pendukung kesuksesan ini adalah tingginya tingkat ketersediaan pabrik pengolahan bijih. Perusahaan juga memaksimalkan pemulihan emas melalui teknologi yang diterapkan di lokasi tambang.
Pengembangan lubang tambang baru serta area bawah tanah mulai menunjukkan hasil nyata. Hal tersebut secara otomatis menopang volume pasokan bahan baku secara berkelanjutan dan stabil.
Aktivitas pengeboran untuk mencari cadangan baru juga dilakukan secara masif di lapangan. Total kedalaman pengeboran yang dilakukan mencapai angka 85.893 meter sepanjang tahun berjalan.
Dana yang dikucurkan untuk agenda eksplorasi ini menelan biaya US$9,3 juta. Angka tersebut setara dengan Rp161,6 miliar untuk mendukung keberlangsungan cadangan emas masa depan.
Hasil pengeboran menemukan adanya mineralisasi emas dengan kadar mencapai 27 g/t Au. Penemuan ini dipercaya dapat memperkokoh posisi cadangan emas milik perusahaan di masa mendatang.
Manajemen juga menanggapi adanya kebijakan kenaikan tarif royalti emas dari pemerintah. Royalti bisa mencapai 16 persen saat harga emas melampaui US$3.000 per ons.
Meskipun beban tersebut meningkat, perusahaan tetap berkomitmen menjalankan efisiensi di berbagai lini. Langkah ini dilakukan agar margin keuntungan tidak tergerus oleh kenaikan biaya tersebut.
Memasuki tahun 2026, perusahaan memasang target kenaikan produksi minimal sebesar 15 persen. Ambisi ini didukung oleh rencana peningkatan kapasitas pabrik pengolahan emas yang signifikan.
Kapasitas pabrik akan ditingkatkan dari semula 4 juta ton menjadi 6 juta ton. Perluasan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi biaya produksi per ons emas dihasilkan.
Strategi diversifikasi energi juga mulai dilirik melalui proyek panas bumi atau geothermal. Ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang untuk menekan ketergantungan pada energi fosil.
Melihat hasil awal tahun, pendapatan pada kuartal pertama 2026 sudah menyentuh US$137 juta. Laba bersih yang dihasilkan dalam tiga bulan pertama mencapai angka US$30 juta.
Volume produksi pada kuartal tersebut berada di angka 29 ribu ons emas. Kenaikan harga emas global menjadi salah satu pemicu utama pertumbuhan kinerja keuangan tersebut.
Pertumbuhan yang solid ini diharapkan terus berlanjut hingga akhir tahun fiskal nanti. Para investor kini menaruh perhatian besar pada realisasi target ekspansi pabrik tersebut.