Harga Emas Naik, ARCI Targetkan Produksi Tumbuh 15 Persen pada 2026
JAKARTA – PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) memiliki peluang besar untuk meneruskan tren positif pada kinerja keuangan maupun operasional mereka di tahun 2026. Pertumbuhan emiten ini dipacu oleh harga emas dunia yang tetap tinggi serta langkah ekspansi bisnis yang agresif.
Pendapatan ARCI tercatat melonjak sebesar 51 persen secara tahunan menjadi US$ 137 juta pada periode kuartal pertama 2026. Selain itu, EBITDA perusahaan juga meningkat tajam 102 persen menjadi US$ 63 juta, diikuti laba bersih yang melambung 188 persen mencapai US$ 30 juta.
Pada aspek operasional, produksi emas ARCI mengalami pertumbuhan sebesar 36 persen menjadi 29 kilo ounces (koz) di kuartal I-2026. Di waktu yang sama, angka penjualan emas perusahaan juga turut merangkak naik 11 persen menjadi 22 koz.
Direktur Utama Archi Indonesia, Rudy Suhendra, menyatakan bahwa pihaknya merasa optimis dapat terus membukukan kinerja positif sepanjang tahun 2026. ARCI mendapatkan keuntungan dari tren kenaikan harga emas dunia serta fokus meningkatkan produksi dari Tambang Emas Toka Tindung di Sulawesi Utara.
“Untuk tahun 2026, target produksi emas kami yaitu minimum 15 persen,” ujar dia sebagaimana dilansir dari berita sumber dalam paparan publik pada hari Kamis (7/5/2026).
Jika merujuk pada realisasi produksi tahun 2025 yang mencapai 122 koz, maka volume produksi ARCI tahun ini diperkirakan menyentuh angka 140,3 koz. Rudy menambahkan bahwa kombinasi kenaikan volume produksi dan harga emas dunia akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan perusahaan.
Kondisi tersebut sudah terlihat pada pencapaian kuartal pertama lalu, di mana produksi tumbuh 36 persen sementara pendapatan naik 51 persen. Selisih 15 persen tersebut merupakan representasi dari kontribusi positif kenaikan harga emas di pasar global.
Rudy berharap harga emas dapat stabil pada rentang US$ 4.700 hingga US$ 5.000 per ounce sesuai dengan proyeksi internal perusahaan. Dengan stabilitas harga tersebut, ARCI berpeluang untuk mengoptimalkan kenaikan laba bersih sepanjang tahun 2026.
Perusahaan telah menyiapkan dua proyek utama sebagai pilar pertumbuhan produksi emas, khususnya untuk masa setelah tahun 2028. Proyek pertama fokus pada peningkatan kapasitas pabrik pengolahan dari 4 juta ton menjadi 6 juta ton per tahun guna meningkatkan pemulihan emas.
Pengerjaan konstruksi untuk proyek peningkatan kapasitas pabrik tersebut dijadwalkan mulai berjalan pada semester pertama tahun 2026. Proyek kedua mencakup perluasan penambangan bawah tanah di Toka Tindung melalui pembukaan pit baru di Marawuwung.
“Kami telah sukses memulai tambang bawah tanah di Kopra yang berjalan lancar dan tahun ini kami akan memulai satu lagi tambang bawah tanah,” tutur Rudy sebagaimana dilansir dari berita sumber.
ARCI juga secara aktif terus mencari area potensial baru melalui penguatan kegiatan eksplorasi serta studi geofisika. Hal ini dilakukan untuk memperdalam pemahaman geologi di wilayah operasional perusahaan guna menjamin keberlanjutan produksi.
Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai prospek kinerja ARCI secara keseluruhan masih berada di jalur positif. Target pertumbuhan produksi sebesar 15 persen dianggap sangat krusial sebagai bantalan jika harga emas sewaktu-waktu terkontraksi.
“Setidaknya peningkatan produksi bisa mengimbangi jika harga emas sewaktu-waktu mengalami penurunan,” kata dia sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Kamis (7/5).
Di sisi lain, Nafan menekankan pentingnya bagi ARCI untuk tetap konsisten dalam melakukan efisiensi pada pos operasional. Pengendalian biaya yang ketat di tengah naiknya volume produksi akan memberikan margin laba yang lebih sehat bagi perusahaan.
Proyek peningkatan kapasitas pabrik pengolahan dinilai akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi kinerja jangka panjang ARCI. Nafan merekomendasikan aksi add untuk saham ARCI dengan target harga yang dipatok pada level Rp 1.870 per lembar saham.