Breaking

RUPST WIKA Angkat I Ketut Pasek Senjaya Putra Jadi Direktur Utama

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 13 Mei 2026
RUPST WIKA Angkat I Ketut Pasek Senjaya Putra Jadi Direktur Utama
ILUSTRASI, WIKA (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) untuk tahun buku 2025 telah menetapkan keputusan strategis, salah satunya dengan menunjuk I Ketut Pasek Senjaya Putra sebagai Direktur Utama atau pimpinan baru perusahaan.

I Ketut Pasek Senjaya Putra resmi menjabat sebagai Direktur Utama WIKA menggantikan posisi Agung BW berdasarkan hasil RUPST tahun buku 2025. Pasek Senjaya sendiri bukan merupakan sosok baru di sektor konstruksi maupun BUMN Karya. 

Sebelum memegang nakhoda di WIKA, ia memiliki rekam jejak sebagai Direktur Operasi I PT Waskita Karya Tbk (WSKT) pada kurun waktu 2021-2022, serta menjabat Direktur Operasi I dan Quality, Safety, Health and Environment WSKT periode 2022-2024.

Lulusan Sarjana Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada tahun 1996 dan Magister Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor tahun 2017 ini juga sempat mengemban amanah sebagai Direktur Eksekutif PT Sarana Bali Dwipa Jaya, sebuah BUMD Provinsi Bali, pada periode 2024–2026.

Keputusan RUPST Wijaya Karya yang digelar pada Senin (11/5/2026) akhirnya menetapkan Pasek Senjaya sebagai pucuk pimpinan emiten BUMN Karya tersebut, menggantikan Agung Budi Waskito (BW). Agung BW sendiri telah memimpin WIKA selama kurang lebih enam tahun sejak 8 Juni 2020.

Berdasarkan hasil RUPST, berikut adalah susunan lengkap dewan komisaris dan direksi WIKA yang baru:

Dewan Komisaris

Komisaris Utama: Apri Artoto

Komisaris Independen: Suryo Hapsoro Tri Utomo

Komisaris Independen: Adityawarman

Komisaris Independen: Harris Arthur Hedar

Komisaris: Suwarta

Dewan Direksi

Direktur Utama: I Ketut Pasek Senjaya Putra

Direktur Manajemen SDM dan Transformasi: Hadjar Seti Adji

Direktur Operasi I: Hananto Aji

Direktur Operasi II: Sonny Setyadhy

Direktur Manajemen Risiko dan Legal: Vera Kirana

Direktur Keuangan: Mulyadi

Kepada para pemegang saham, manajemen WIKA menyampaikan bahwa selama tahun buku 2025, perusahaan mengalami tantangan berupa penurunan kondisi pasar industri konstruksi nasional. Hal ini memberikan tekanan pada perolehan kontrak baru, angka penjualan, serta penerimaan kas.

Sebagai langkah mitigasi, WIKA menitikberatkan strategi pada penguatan struktur modal, optimalisasi pengelolaan kewajiban, percepatan penagihan piutang, serta pengendalian belanja yang ketat dengan prinsip cash focused, lean, and fit for future.

Strategi tersebut membuahkan hasil di mana Gross Profit Margin (GPM) mengalami kenaikan dari 7,9% di tahun 2024 menjadi 8,5% pada 2025. 

Perusahaan juga berhasil memangkas utang usaha senilai Rp1,79 triliun dan utang berbunga sebesar Rp2,08 triliun. Nilai piutang WIKA pun mengalami penurunan menjadi Rp4,58 triliun dari posisi sebelumnya sebesar Rp1,89 triliun.

Dari sisi kinerja operasional, WIKA mencatatkan kontrak baru senilai Rp17,46 triliun dengan total kontrak dihadapi mencapai Rp50,55 triliun. Penjualan perusahaan berada di angka Rp20,44 triliun dengan total nilai aset sebesar Rp50,15 triliun.

Selain merombak jajaran pengurus, RUPST menyetujui delapan agenda lainnya, termasuk Laporan Tahunan Tahun Buku 2025, Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris, serta pengesahan Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Program Pendanaan Usaha Mikro dan Usaha Kecil (PUMK) Tahun Buku 2025.

WIKA juga memaparkan realisasi penggunaan dana hasil Penawaran Umum melalui Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II) serta tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) hingga tahun buku 2025. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Dari total dana PMHMETD II sebesar Rp6,08 triliun, WIKA telah merealisasikan penggunaan dana sebesar Rp5,7 triliun sesuai prospektus."

Selanjutnya, RUPST menyepakati perubahan Anggaran Dasar, pendelegasian wewenang untuk Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026–2030 dan RKAP 2027, serta perubahan Peraturan Dana Pensiun Wijaya Karya.

Ke depan, WIKA berkomitmen untuk terus memperkuat struktur keuangan melalui tiga pilar pemulihan utama: restrukturisasi komprehensif, divestasi aset, serta peningkatan keunggulan operasional. 

Fokus utama perusahaan adalah menjaga stabilitas keuangan dan arus kas demi kinerja yang berkelanjutan, termasuk melakukan divestasi selektif pada aset non-inti yang potensial memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua