Breaking

Laba Semen Indonesia Naik 89 Persen di Kuartal I 2026 Jadi Rp 80 Miliar

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 19 Mei 2026
Laba Semen Indonesia Naik 89 Persen di Kuartal I 2026 Jadi Rp 80 Miliar
ILUSTRASI. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) membukukan laba bersih sebesar Rp 80 miliar pada kuartal I-2026, (Sumber Gambar : topbusiness.id)

JAKARTA – PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) berhasil mengantongi laba bersih senilai Rp 80 miliar pada kuartal I-2026, yang berarti melesat 89% secara year on year (YoY). Walaupun persentase kenaikannya terlihat melonjak drastis, kualitas dari perkembangan profit perusahaan ini nyatanya masih terhambat akibat lonjakan ongkos produksi.

Menurut penilaian dari analis J.P. Morgan, Arnanto Januri dan Benny Kurniawan, peningkatan laba bersih SMGR belum sepenuhnya memperlihatkan pemulihan pada fundamental operasional perseroan. 

Melalui laporan riset yang dirilis pada 30 April 2026, Arnanto dan Benny memberikan sorotan tajam pada pembengkakan biaya yang terus menekan tingkat keuntungan perusahaan.

sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Pendapatan kuartal I-2026 tumbuh 8% YoY, ditopang kenaikan volume penjualan semen domestik. Namun, pertumbuhan laba secara absolut hanya sekitar Rp 37 miliar yang menunjukkan biaya masih tinggi dan menggerus operating leverage," tulis Arnanto dan Benny dalam risetnya.

Sepanjang kuartal pertama tahun 2026, nilai penjualan yang dibukukan SMGR menyentuh Rp 8,29 triliun atau terangkat 8% YoY. Kendati demikian, margin keuntungan yang didapatkan masih sangat terbatas. 

Margin EBITDA mengalami penyusutan menjadi 13% dari yang sebelumnya 14%, sementara margin EBIT ikut tergerus menjadi 3% dari yang sebelumnya 4% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Faktor penekan paling signifikan bersumber dari lonjakan pengeluaran untuk bahan bakar serta energi yang menyentuh angka tertinggi sejak tahun 2019. Ongkos fuel and energy per ton terpantau melonjak 13% secara kuartalan (QoQ) dan naik 3% secara tahunan (YoY). 

Bukan hanya itu, pengeluaran overhead lainnya per ton turut terkerek 13% YoY, yang dibarengi dengan kenaikan beban umum dan administrasi sebesar 11% YoY pada kuartal I-2026.

Dari aspek volume, SMGR sebenarnya masih menunjukkan grafik perbaikan pada sektor penjualan domestik. Jumlah penjualan semen di pasar domestik terangkat 5% YoY hingga menyentuh 6,54 juta ton. 

Untuk komoditas semen kantong juga mengalami peningkatan sebesar 11% YoY serta memberikan sumbangsih hingga 75% bagi bauran volume domestik, angka ini naik dari porsi tahun lalu yang sebesar 71%.

Walau memperlihatkan pertumbuhan volume, Arnanto dan Benny memilih untuk tetap memasang rekomendasi underweight terhadap saham SMGR dengan menetapkan target harga pada level Rp 2.100 per lembar saham. 

Berdasarkan pandangan Arnanto dan Benny, masa depan industri semen di tahun 2026 diproyeksikan masih penuh tantangan berhubung tingkat pertumbuhan permintaan diperkirakan akan sangat minim di tengah lesunya situasi makroekonomi. 

Kompetisi harga yang datang dari kompetitor regional pun diprediksi bakal terus menggerus pangsa pasar serta profitabilitas yang dimiliki SMGR.

Di lain sisi, masih ada sejumlah faktor yang berpotensi menjadi stimulus positif bagi performa bisnis SMGR ke depan, di antaranya adalah bangkitnya permintaan semen yang didorong oleh realisasi belanja infrastruktur dari pemerintah, pulihnya daya beli dari masyarakat, hingga langkah efisiensi pengeluaran pada lini bisnis non-semen.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua