Breaking

Malindo Feedmill Bangun Pabrik Pakan Baru di Lampung Demi Pasar MBG

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 26 Mei 2026
Malindo Feedmill Bangun Pabrik Pakan Baru di Lampung Demi Pasar MBG
ILUSTRASI, Gedung PT Malindo Feedmill (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Emiten perunggasan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) tetap gencar melaksanakan ekspansi bisnisnya kendati berada di tengah tekanan ekonomi global maupun domestik. Perusahaan mengalokasikan anggaran belanja modal sebesar Rp 700 miliar sampai Rp 800 miliar pada tahun ini guna memperkuat kapasitas produksi sekaligus menangkap peluang dari pertumbuhan permintaan pasar dalam negeri.

Direktur Malindo Feedmill, Rudi Hartono Husin, mengutarakan bahwa fokus utama dari ekspansi pada tahun ini adalah mendirikan pabrik pakan ternak (feedmill) baru yang berlokasi di Lampung, di mana proyek ini ditargetkan selesai pada kuartal III-2026. 

Bukan hanya memperbesar kapasitas pakan, MAIN pun bakal menambah fasilitas peternakan untuk kebutuhan breeding maupun ayam broiler.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Selain itu, kami juga akan membangun peternakan baik breeding maupun ayam broiler,” ujar Rudi dalam paparan publik virtual, Senin (25/5/2026).

Aktivitas ekspansi ini dijalankan di tengah prospek industri perunggasan yang dinilai masih berpotensi besar. Salah satu faktor penggeraknya ialah program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah yang mulai meningkatkan keseimbangan antara pasokan dan permintaan terhadap produk unggas.

Direktur Malindo Feedmill, Rewin Hanrahan, memandang bahwa program tersebut turut membantu menjaga stabilitas harga produk poultry di pasar.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Sehingga harga jual produk poultry bisa cukup stabil karena antara pasokan dan permintaan cukup match, cukup seimbang,” kata Rewin.

Walaupun merasa optimistis melihat prospek industri ini, MAIN tetap bertindak hati-hati dalam menetapkan target pertumbuhan sepanjang tahun ini. 

Perusahaan masih memperhatikan beberapa tantangan, khususnya melemahnya nilai tukar rupiah yang memicu kenaikan harga bahan baku impor seperti bungkil kedelai (soybean meal).

Berdasarkan penuturan Rewin, kenaikan ongkos bahan baku akibat depresiasi rupiah tersebut sudah mulai berimbas pada operasional perusahaan. Oleh sebab itu, MAIN terus melangsungkan penyesuaian dan inovasi agar efeknya terhadap margin bisnis bisa diredam.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Peningkatan harga bahan baku akibat dari melemahnya rupiah terhadap dolar AS memang sudah terjadi. Kami akan selalu mengikuti harga di pasar sambil menerapkan inovasi untuk meminimalkan dampaknya,” ujarnya.

Di tengah impitan biaya produksi tersebut, MAIN pun memperkokoh langkah efisiensi operasional, khususnya di sektor energi. Perusahaan melanjutkan pemasangan panel surya (solar panel) serta mengonversi sebagian sumber energi ke tenaga surya guna memangkas biaya operasional jangka panjang sekaligus menyokong keberlanjutan usaha.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Untuk operasional yang sekarang terkait dengan energi, kami sudah melakukan konversi beberapa energi menjadi solar cell," kata Rudy.

Dari segi kinerja keuangan, MAIN menorehkan pertumbuhan positif selama kuartal I-2026. Penjualan bersih perusahaan meningkat 16,61% secara tahunan menjadi Rp3,67 triliun, dari Rp3,17 triliun pada kuartal yang sama di tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut utamanya ditopang oleh penjualan pakan ternak yang tumbuh 10,92% menjadi Rp2,1 triliun. Sektor ayam pedaging memberikan kontribusi sebesar Rp808,38 milar, sementara untuk penjualan DOC/DOD menyentuh angka Rp622,42 miliar.

Kinerja laba perusahaan juga mengalami lonjakan yang masif. Laba bersih MAIN melesat dari Rp62,89 milar menjadi Rp123,27 miliar pada kuartal pertama tahun ini, yang dipicu oleh kenaikan laba kotor sebesar 22,79% menjadi Rp402,73 milar.

Pihak manajemen mengungkapkan bahwa stabilnya harga DOC serta ayam broiler sejak awal tahun menjadi salah satu aspek utama yang mendukung pertumbuhan laba bersih perusahaan. 

Untuk ke depannya, MAIN tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan pasar domestik semata, melainkan mulai menjajaki peluang ekspor demi memperkuat kinerja bisnisnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua