Breaking

Harga Emas Tertekan Yield US Treasury, Cek Proyeksi Hingga Akhir 2026

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Selasa, 21 Juli 2026
Harga Emas Tertekan Yield US Treasury, Cek Proyeksi Hingga Akhir 2026
Ilustrasi Emas (Sumber : NET)

JAKARTA – Meskipun ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kian memanas dan harga minyak mentah dunia naik, pergerakan harga emas spot maupun Antam belum menunjukkan peningkatan berarti. Saat ini, pergerakan harganya masih berada di kisaran level terendah dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir.

Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (21/7) pukul 15.22 WIB, harga emas spot berada di level US$ 4.064,50 per ons troi, terkoreksi 3,0 persen dalam sebulan terakhir serta melemah 5,9 persen Ytd. Di lain sisi, harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia PT Aneka Tambang (ANTM) mengalami penurunan sebesar Rp 9.000 per gram, dari posisi sebelumnya Rp 2.610.000 per gram menjadi Rp 2.601.000 per gram.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menyampaikan bahwa belum berkasanya penguatan harga emas dipicu oleh tingginya imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data teranyar, yield US Treasury mencatatkan kenaikan ke level 4,58 persen atau tumbuh 1,98 persen dalam satu bulan terakhir.

Situasi tersebut mendorong para investor untuk lebih memprioritaskan aset berbasis dolar AS ketimbang emas, yang pada akhirnya memberikan tekanan terhadap harga emas dalam satuan dolar AS.

“Kenaikan yield obligasi ini karena potensi kenaikan suku bunga acuan AS akibat tekanan inflasi di AS karena harga minyak mentah naik. Peyebab harga minyak mentah naik ini karena kondisi perang Iran AS,” ujar Ariston sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ariston menguraikan, melonjaknya harga minyak dipantik oleh eskalasi perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran yang memperbesar risiko disrupsi pasokan energi dunia. Apabila pertikaian ini terus bergulir serta lalu lintas distribusi minyak di Selat Hormuz makin terhambat, harga minyak Brent berpotensi menembus level US$ 90 per barel.

Kendati demikian, Ariston menilai bahwa ketidakpastian kondisi geopolitik tetap menjadi penopang utama prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang.

"Dunia yang terus berkonflik akan menaikkan daya tarik aset-aset safe haven seperti dolar AS dan emas. Saat ini kebetulan harga emas sedang berbanding terbalik dengan nilai dolar AS, tapi bukan berarti harga emas akan mengalami tekanan terus," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping itu, aksi akumulasi pembelian emas oleh berbagai bank sentral dunia sebagai strategi diversifikasi cadangan devisa turut menjadi penyangga harga logam mulia tersebut.

Mengenai langkah investasi, Ariston berpendapat harga emas saat ini telah menyentuh area support sehingga dapat dimanfaatkan investor untuk mulai mencicil pembelian. Meski begitu, ia mengimbau agar transaksi dilakukan secara bertahap mengingat peluang terjadinya koreksi lanjutan masih terbuka.

Ariston memproyeksikan harga emas spot tetap berpeluang melaju ke level US$ 4.500 per ons troi pada akhir tahun 2026. Sementara itu, harga emas Antam diperkirakan sanggup merambat menuju kisaran Rp 2,8 juta per gram seiring dengan terbukanya prospek penguatan harga emas global dalam jangka panjang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua