Breaking

IHSG Melemah 0,39 Persen Menjelang Pengumuman Kebijakan Suku Bunga BI

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Rabu, 22 Juli 2026
IHSG Melemah 0,39 Persen Menjelang Pengumuman Kebijakan Suku Bunga BI
Ilustrasi saham (sumber foto : NET)

JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona merah pada sesi I perdagangan Rabu (22/7/2026). Penurunan ini dipicu oleh sikap wait and see para investor yang sedang menunggu penyampaian hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Saat penutupan sesi I, IHSG tercatat mengalami penurunan sebesar 24,47 poin (0,39%) menuju ke posisi 6.315.

Pilarmas Investindo Sekuritas menyampaikan bahwa fokus perhatian para pelaku pasar saat ini terarah pada penetapan BI yang diproyeksikan bakal menaikkan suku bunga acuan hingga 25 basis poin (bps).

Menurut penilaian Pilarmas, kebijakan tersebut dipandang sebagai langkah dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan laju inflasi di tengah lonjakan ketidakpastian global serta dinamika geopolitik yang masih tinggi.

Kendati demikian, peningkatan suku bunga acuan tersebut turut berpotensi melambungkan biaya pinjaman, sehingga bisa menahan tingkat konsumsi masyarakat maupun langkah ekspansi dari dunia usaha. “Kondisi tersebut dinilai berisiko memperlambat laju pertumbuhan ekonomi domestik,” tulis Pilarmas dalam risetnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain dari segi fiskal, Pilarmas menilai sentimen di dalam negeri masih cenderung positif. Menteri Keuangan mengabarkan bahwa tingkat defisit APBN semester I-2026 berada pada angka 0,76% terhadap produk domestik bruto (PDB) atau setara Rp 196,5 triliun, yang mana posisi ini terhitung jauh di bawah batas maksimum 3% dan sejalan terhadap target defisit APBN tahun ini di angka 2,68% dari PDB.

Di samping itu, Badan Gizi Nasional (BGN) melangsungkan pemangkasan anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 menjadi sebesar Rp 229 triliun dari estimasi awal Rp 268 triliun. Langkah ini dipandang dapat membantu mempertahankan ketahanan fiskal pemerintah.

Mengenai sentimen global, Pilarmas menerangkan bahwa koreksi pada IHSG tetap terjadi walaupun mayoritas bursa di kawasan Asia justru mencatatkan penguatan mengekor tren positif di Wall Street. Lonjakan di bursa global didorong oleh kenaikan kembali saham-saham teknologi, khususnya di sektor semikonduktor, seiring tingginya optimisme pasar terhadap kebutuhan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

“Namun, sentimen positif tersebut tertahan oleh memudarnya harapan tercapainya solusi diplomatik atas konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran,” tambah Pilarmas sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pihak AS kembali melancarkan aksi serangannya ke target di wilayah Iran selama 11 malam beruntun. Di saat yang sama, kelompok Houthi asal Yaman yang disokong Iran mengancam keberadaan kapal-kapal pengangkut minyak milik Arab Saudi di wilayah Selat Bab el-Mandeb serta memberlakukan blokade terhadap Arab Saudi.

Pilarmas menyebutkan pula bahwa Presiden AS Donald Trump menampik opsi dialog jangka pendek dengan Iran dan memberikan peringatan terkait potensi gempuran yang lebih intensif. Situasi ini semakin memperkuat kekhawatiran para pelaku pasar atas ancaman terganggunya rantai pasokan energi dunia.

Dalam perdagangan sesi I, jajaran saham ZATA, MLPT, WMUU, ALDO, serta MDIA mencatatkan diri sebagai saham-saham dengan penguatan terbesar. Di sisi berseberangan, saham KDTN, TRON, SULI, GPSO, dan FILM menjadi jajaran yang mengalami tekanan penurunan paling dalam.

Menghadapi sesi II, Pilarmas menyodorkan rekomendasi buy untuk saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) pada rentang support level 3.590 serta level resistance 4.250.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua