Breaking

Harga Emas Turun 4,49 persen YTD, Ini Prospek dan Analisis 2026

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Kamis, 23 Juli 2026
Harga Emas Turun 4,49 persen YTD, Ini Prospek dan Analisis 2026
Ilustrasi emas (sumber foto : NET)

JAKARTA – Tren penurunan masih terus membayangi pergerakan harga emas saat ini. Secara year to date (ytd), harga emas jatuh sebesar 4,49%, kendati secara tahunan (year on year/yoy) masih mencatatkan kenaikan 20,43%.

Pengamat pasar memprediksi harga emas berisiko kembali menyentuh titik terendahnya sebelum bulan September. Meski begitu, penurunan nilai mata uang global dinilai tetap menjadi pendorong fundamental bagi pergerakan harga emas berikutnya.

Mitra pengelola dan ahli strategi pasar di Sprott Inc, Paul Wong, menyampaikan bahwa emas cenderung memperoleh dukungan saat harganya merosot hingga 90% dari rata-rata pergerakan 200 hari.

“Tampaknya tren saat ini sangat mirip (dengan penurunan sebelumnya). Persentase di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, itu hanyalah ukuran teknis. Saya cenderung memikirkan hal-hal lebih dalam hal probabilitas: di mana Anda berada pada kurva distribusi probabilitas? Apakah ada jenuh jual?" kata Paul Wong sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Biasanya emas mencapai titik terendah di musim panas, biasanya sekitar awal Agustus adalah titik terendah musiman rata-rata (sebelum kembali naik)," bebernya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Paul Wong mengantisipasi dinamika yang sama akan terjadi lagi pada tahun ini. “Mungkin sekitar bulan Agustus, atau sesuatu terjadi (konflik) di Timur Tengah, atau pasar obligasi menjadi lesu. Akan ada semacam peristiwa, katalis, yang tiba-tiba memicu kenaikan harga emas," imbuhnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menjelaskan bahwa harga emas dapat kembali melesat saat permintaan meningkat akibat dampak perang di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dunia. "Anda akan membangun lebih banyak tenaga surya, karena itu adalah energi terbarukan, dan itu aman. Sementara itu, pemerintah di seluruh dunia sedang berubah. Mereka menaikkan harga, menaikkan pajak, dan memperketat ekspor. Segala sesuatu akan naik harga," lanjut Paul Wong sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, ruang gerak Federal Reserve menjadi kian terbatas dalam menghadapi tekanan harga global yang tak kunjung mereda.

"Realitas sederhananya adalah ada begitu banyak tekanan yang menumpuk di pasar obligasi, kata Wong, yang memaksa bank sentral untuk membuat pilihan yang jelas sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, hal tersebut menjadi faktor yang mendorong harga emas kembali naik, bukan karena logam kuning itu menjadi tren investasi baru, melainkan akibat potensi devaluasi mata uang fiat demi menjaga stabilitas fiskal.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua