Breaking

HSC di Atas 90 persen Mengapa Pengawasan Baru Bekerja Saat Risiko Terjadi

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Sabtu, 25 Juli 2026
HSC di Atas 90 persen Mengapa Pengawasan Baru Bekerja Saat Risiko Terjadi
Ilustrasi pasar modal (sumber foto : NET)

JAKARTA – Pasar modal bergantung pada mekanisme permintaan dan penawaran serta efektivitas sistem pengawasan yang menjaga integritas perdagangan. Investor menanamkan modalnya dengan keyakinan bahwa seluruh aktivitas pasar diawasi secara aktif agar potensi risiko terdeteksi sejak awal.

Keberhasilan sistem pengawasan tidak hanya diukur dari pelanggaran yang terungkap, tetapi juga kemampuannya mencegah risiko menjadi kerugian investor. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul sejumlah saham dengan High Shareholding Concentration (HSC) di atas 90% hingga mendekati 99%.

HSC menggambarkan kondisi saat mayoritas saham emiten dikuasai kelompok pemegang saham tertentu, sehingga porsi saham untuk perdagangan publik sangat sedikit. Kondisi tersebut pada dasarnya tidak serta-merta mengindikasikan adanya pelanggaran ataupun tindakan yang menyalahi aturan.

Tingkat konsentrasi kepemilikan yang terlampau tinggi merupakan indikator risiko yang memerlukan perhatian khusus dari sisi pengawasan pasar. Di tengah berbagai evaluasi pengawasan pasar modal, muncul pertanyaan penting dari sudut pandang para investor.

Jika data struktur kepemilikan saham tersedia dan HSC tinggi terlihat dalam jangka panjang, mengapa pengawasan baru diperketat setelah risiko terjadi? Apakah mekanisme pengawasan selama ini lebih berfokus pada respons setelah masalah timbul daripada melakukan pencegahan awal?

High Shareholding Concentration bukanlah istilah yang selalu berhubungan dengan pelanggaran hukum. Banyak perusahaan memiliki struktur kepemilikan yang terkonsentrasi karena karakteristik bisnis, kepemilikan pengendali, atau strategi investasi jangka panjang.

Saat konsentrasi kepemilikan menembus lebih dari 90%, ruang gerak saham yang aktif diperdagangkan di publik menjadi sangat terbatas. Kondisi ini membawa dampak langsung terhadap kualitas perdagangan di pasar modal.

Likuiditas pasar menjadi jauh lebih tipis, pergerakan harga rentan terhadap transaksi kecil, dan pembentukan harga kurang mencerminkan keseimbangan riil. Investor publik juga menanggung risiko lebih tinggi saat membeli atau menjual saham tanpa memicu fluktuasi harga yang signifikan.

Oleh karena itu, HSC yang sangat tinggi mestinya dijadikan indikator utama dalam sistem pengawasan berbasis risiko. Hal ini bukan karena konsentrasi kepemilikan melanggar hukum, melainkan kondisi tersebut meningkatkan kerentanan terhadap risiko pasar jika tidak dipantau secara ketat.

Tujuan utama pengawasan pasar modal bukanlah sekadar menemukan pelanggaran, melainkan menjaga perdagangan berjalan wajar, teratur, dan efisien. Pada praktik pengawasan modern, regulator di berbagai negara kian mengedepankan pendekatan risk-based supervision guna mengidentifikasi risiko sebelum membesar.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua