Breaking

Rupiah Berisiko Melemah Lagi Usai Terdepresiasi 0,15 Persen

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Sabtu, 25 Juli 2026
Rupiah Berisiko Melemah Lagi Usai Terdepresiasi 0,15 Persen
Ilustrasi nilai tukar (sumber foto : NET)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2026) akibat meningkatnya tekanan sentimen global dan domestik.

Eskalasi konflik antara AS dan Iran, lonjakan harga minyak dunia, serta antisipasi pasar terhadap keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi penyebab utama tertekannya mata uang Garuda.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,15% secara harian ke level Rp 17.963 per dolar AS. Secara mingguan, mata uang Garuda terkoreksi 0,23% jika dibandingkan posisi Jumat (17/7/2026) yang berada di Rp 17.921 per dolar AS.

Sementara itu, mengacu pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup melemah 0,32% ke level Rp 17.973 per dolar AS. Secara mingguan, nilai tukar rupiah turun 0,16% dari posisi Rp 17.944 per dolar AS pada akhir pekan sebelumnya.

Analis Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dalam sepekan terakhir terpicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, pasar mencermati eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkat.

Pasukan AS dilaporkan menggempur sejumlah target militer Iran, seperti lokasi peluncuran rudal dan drone, fasilitas komando dan kendali, sistem pertahanan udara, hingga infrastruktur militer lainnya. Sebagai balasan, Iran melancarkan Serangan terhadap posisi militer AS di berbagai wilayah, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran atas potensi gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Ancaman terhadap jalur strategis tersebut dinilai dapat mengurangi pasokan minyak global sekaligus menaikkan biaya pengiriman dan premi asuransi.

“Pertempuran yang kembali memanas ini merupakan permusuhan terburuk AS-Iran sejak sebelum gencatan senjata April lalu, dengan pembicaraan damai antara kedua pihak tampaknya telah sepenuhnya gagal,” ujar Ibrahim, Jumat (24/7/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak mentah dunia turut meningkatkan risiko inflasi tetap bertahan di atas target Federal Reserve. Kondisi tersebut berpotensi mendorong bank sentral AS mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama sehingga memperkuat dolar AS.

Selain faktor global, Ibrahim menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik yang belum sepenuhnya pulih.

Ia menyoroti investasi yang masih melambat serta konsumsi rumah tangga yang lesu sehingga diperkirakan menahan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di bawah level 5%.

Menurutnya, banyak pelaku usaha masih memilih menunda ekspansi lantaran permintaan domestik yang belum kuat, tingginya biaya pendanaan, serta ketidakpastian ekonomi. Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan belum mampu memberi dorongan signifikan terhadap penguatan rupiah.

Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah pada sepekan mendatang akan bergerak pada kisaran Rp 17.880 hingga Rp 18.250 per dolar AS.

Senada, Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dalam sepekan ke depan.

Menurut Amru, investor akan mencermati langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk efektivitas kebijakan stabilisasi rupiah dan perkembangan arus modal asing ke pasar keuangan domestik.

Selain itu, perhatian pasar akan tertuju pada kebijakan tarif Amerika Serikat yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian perdagangan global. Kondisi tersebut dapat mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven.

Dinamika konflik di Timur Tengah juga dinilai tetap menjadi faktor penting lantaran berpotensi memengaruhi harga minyak dunia.

Dari sisi data ekonomi, pelaku pasar menantikan sejumlah agenda penting Amerika Serikat, mulai dari keputusan suku bunga Federal Open Market Committee (FOMC), rilis produk domestik bruto (PDB) AS kuartal II, Core PCE Price Index, hingga data pasar tenaga kerja dan konsumsi yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter The Fed.

"Seluruh faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan," terang Amru sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Amru memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS pada perdagangan sepekan mendatang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua