Rupiah Melemah ke Rp17.963, Pasar Tunggu Keputusan The Fed
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Rupiah di pasar spot turun 0,15 persen ke Rp17.963 per dolar AS, sementara kurs Jisdor Bank Indonesia melemah 0,32 persen ke Rp17.973 per dolar AS.
Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, pasar mencermati eskalasi konflik antara AS dan Iran. Pasukan AS dilaporkan menyerang sejumlah target militer Iran, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, fasilitas komando, sistem pertahanan udara, serta infrastruktur militer. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap posisi militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
“Pertempuran yang kembali memanas ini merupakan permusuhan terburuk AS-Iran sejak sebelum gencatan senjata April lalu, dengan pembicaraan damai antara kedua pihak tampaknya telah sepenuhnya gagal,” ujar Ibrahim, Jumat (24/7/2026).
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia meningkatkan risiko inflasi tetap bertahan di atas target Federal Reserve. Kondisi ini berpotensi membuat bank sentral AS mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga memperkuat dolar AS.
Selain faktor global, Ibrahim menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi domestik. Investasi masih melambat dan konsumsi rumah tangga lesu sehingga pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap di bawah 5 persen.
“Banyak pelaku usaha masih menunda ekspansi karena permintaan domestik belum kuat, biaya pendanaan tinggi, serta ketidakpastian ekonomi. Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan belum mampu memberikan dorongan signifikan terhadap rupiah,” jelas Ibrahim.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.880 hingga Rp18.250 per dolar AS sepekan mendatang.
Senada, Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menilai rupiah masih akan fluktuatif. Ia menekankan bahwa investor akan mencermati langkah BI menjaga stabilitas nilai tukar, efektivitas kebijakan stabilisasi rupiah, serta arus modal asing.
“Seluruh faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan,” terang Amru.
Amru memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS. Ia menambahkan bahwa perhatian pasar juga tertuju pada kebijakan tarif AS yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian perdagangan global, serta dinamika konflik Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak dunia.