Harga Emas Diprediksi Melonjak ke 6.000 US Dolar, Utang AS Jadi Faktor
JAKARTA - Pakar memprediksi harga emas berpeluang melonjak tinggi dari level saat ini sekitar 4.000 US dolar per troy ounce ke 6.000 US dolar per troy ounce. Presiden Maison Placements Toronto, John Ing, menilai lonjakan utang Amerika Serikat dan pembelian emas oleh bank sentral global menjadi faktor utama.
John Ing menyoroti utang federal AS telah mencapai 39 triliun US dolar, dengan biaya bunga tahunan sekitar 1 triliun US dolar. “Meskipun reli emas selama dua tahun telah mengalami jeda yang menyegarkan, kami percaya bahwa pasar bullish baru saja dimulai,” ungkap John Ing.
Ia menambahkan: “Kami terus memperkirakan emas akan mencapai 6.000 US dolar per troy ounce sebagai bagian dari pasar bullish.”
Harga emas telah naik sekitar 68 persen sejak 2024, salah satu reli terkuat di era modern. Menurut Ing, kenaikan berkelanjutan menuju 6.000 US dolar per troy ounce akan memperluas margin penambang, meningkatkan arus kas bebas, dan mendorong akuisisi karena produsen berjuang mengganti cadangan.
Porsi dolar AS dari cadangan global turun menjadi 54 persen pada kuartal I-2025 dari 71 persen pada 1999. Investor asing memiliki hampir 10 triliun US dolar dari pasar obligasi pemerintah AS senilai 32 triliun US dolar, membuat Washington rentan jika permintaan melemah. Ing berpendapat Federal Reserve tidak dapat mendukung permintaan obligasi dengan memperluas pasokan uang tanpa memicu inflasi.
Bank sentral global membeli 244 ton emas pada kuartal I-2026 dan menambah 41 ton pada Mei. Selain itu, sejumlah pemerintah mulai memindahkan emas fisik dari brankas New York dan London untuk mengurangi eksposur terhadap sanksi dan risiko politik.
“Pergeseran ini tidak akan menggantikan dolar AS dalam waktu dekat, tetapi memberikan peran lebih kuat pada emas karena negara-negara terus memperluas cadangan mereka ke aset safe haven tersebut,” jelas John Ing.