Breaking

Analisis Harga Emas Bertahan di US 4.000 Dolar per Troy Ounce

AK
Akbar

Editor: Septian Akbar Gumilang

Minggu, 26 Juli 2026
Analisis Harga Emas Bertahan di US 4.000 Dolar per Troy Ounce
Ilustrasi emas (sumber foto : NET)

JAKARTA – Logam mulia emas sukses menjaga batas bawah kritis pada kisaran US$ 4.000 per troy ounce selama lima pekan berturut-turut.

Walau pergerakannya belum melonjak signifikan, beberapa pengamat menganggap emas tetap berpotensi mengalami tren menguat.

Para pengamat menilai bahwa kendati emas belum sanggup bertahan di atas kisaran US$ 4.100 per troy ounce, tekanan jual terhadap logam mulia tersebut tergolong minim.

Terbatasnya penguatan emas dipicu oleh memanasnya konflik di Iran yang mendongkrak harga energi dunia, sehingga memicu kecemasan inflasi dan memicu bank sentral global mengambil tindakan lebih ketat.

Analis Pasar Senior di FXTM, Lukman Otunuga menuturkan bahwa di tengah tingginya ketidakpastian arah kebijakan moneter AS, arah pergerakan emas bakal sangat bergantung pada data inflasi.

"Pasar sekarang memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Juli sebesar 34%, dengan kecenderungan kuat pada bulan September. Tarif baru AS sebesar 10%–12,5% pada impor dari mitra dagang utama menambah ketidakpastian lain, mengancam efek inflasi putaran kedua yang memberi The Fed ruang gerak lebih sedikit. Pekan depan, sentimen masih dipenuho geopolitik, keputusan The Fed, dan indeks harga PCE yang dapat memengaruhi bagaimana harga emas berakhir pada bulan Juli," ungkap Otunuga sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sinyal meredanya tekanan inflasi berpotensi menjadi penyokong bagi pergerakan emas.

Meski demikian, sempitnya peluang pemulihan secara berkelanjutan disebabkan oleh tingginya harga minyak yang masih bertengger di kisaran US$ 100.

Berdasarkan estimasi Otunuga, posisi US$ 4.000 menjadi batas bawah struktural yang krusial untuk terus dipantau.

"Penembusan yang jelas di bawah level ini membuka peluang harga emas terkoreksi menuju US$ 3.950 dan US$ 3.900. Jika level ini bertahan, emas mungkin akan pulih menuju US$ 4.100 dan US$ 4.200," bebernya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati proyeksi kenaikan suku bunga berisiko menahan penguatan emas, para analis meyakini bahwa gejolak yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah dapat menjadi momentum balik bagi emas.

"Jika harga minyak yang lebih tinggi terus memicu inflasi sekaligus membebani aktivitas ekonomi dan kondisi pasar tenaga kerja, kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan pada akhirnya dapat mengalahkan kekhawatiran inflasi," kata Simon-Peter Massabni, Kepala Pengembangan Bisnis di XS.com sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Pada tahap itu, investor kemungkinan akan beralih kembali ke aset defensif, dengan emas berpotensi diuntungkan, terutama jika pasar mulai memperhitungkan siklus pelonggaran kebijakan moneter di masa depan dari Federal Reserve," imbuhnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua