Valas Global Waspada, Emas Konsolidasi di 4.250 US Dolar
JAKARTA - Pasar valuta asing bergerak hati-hati pada Kamis (6/8/2026) di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah. Dolar AS sempat melemah setelah data ekonomi AS yang lemah, namun kembali stabil karena optimisme penyelesaian konflik meredup.
Data ADP menunjukkan ketenagakerjaan sektor swasta hanya naik 44 ribu pada Juli, jauh di bawah ekspektasi 70 ribu. PMI Jasa ISM juga tercatat 54,1, di bawah perkiraan 54,5. Indeks dolar AS bertahan tipis di bawah 100.
Pidato Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, bernada dovish dengan menekankan fokus pada penurunan inflasi tanpa memperlambat ekonomi. Sikap ini menandakan The Fed lebih berhati-hati, meski tetap mengakui risiko inflasi.
Di sisi geopolitik, Iran dan Oman hampir menyelesaikan kerangka kerja pelayaran komersial di Selat Hormuz. Namun, pejabat Iran menegaskan kesepakatan itu tidak otomatis membuka jalur perairan strategis. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut pembicaraan dengan Iran “berantakan.”
Harga minyak mentah Brent stabil di US$79,45, sementara WTI diperdagangkan di sekitar US$74,50. Analis menilai koridor Hormuz hanya bersifat sementara, sehingga premi risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.
Pergerakan mata uang utama:
- EUR/USD terkoreksi di bawah 1,1550.
- USD/JPY sideways di bawah 158,00.
- GBP/USD mundur tipis ke 1,3450.
Sementara itu, emas reli lebih dari 4 persen pada Rabu, menembus US$4.300 untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juni, sebelum konsolidasi di sekitar US$4.250. Analis OCBC menilai penguatan emas didorong ekspektasi The Fed yang lebih lembut, pelemahan USD, dan meredanya ketegangan Timur Tengah.
Dengan pasar menunggu rilis NFP AS pada Jumat, volatilitas valas dan komoditas diperkirakan tetap tinggi, menjadikan dolar AS dan emas sebagai fokus utama investor global.